Sunday, August 11, 2019

Biodiverskripsi di Papua!

Oleh: Mochamad Rifky



Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, akan tetapi masih banyak masyarakatnya yang belum menyadari potensi tersebut, berbagai macam ancaman yang dapat merusak kehidupan mereka di bumi ini antara lain maraknya illegal logging, penebangan tidak berkelanjutan, perburuan liar, dan salah satu penyebab terjadinya hal tersebut ialah kurangnya data keanekaragaman hayati (KEHATI) yang dapat diakses secara umum. Bukan hanya itu, mahasiswa Indonesia pun merasakan betapa sulitnya mendapatkan data kehati sebagai acuan penelitian mereka.

Sadar akan kekosongan tersebut, Tambora Muda Indonesia bermitra dengan Universitas Papua (UNIPA) dalam program The Biodiversity Theses Database (Biodiverskripsi) mempublikasikan data kehati yang ter-rangkum dalam skripsi, tesis, maupun disertasi yang dimiliki oleh UNIPA dengan tujuan mengisi kekosongan data kehati yang ada di Indonesia dan juga untuk meneliti tren penelitian mahasiswa Indonesia selama ini.

Pelatihan dan pendampingan transkripsi diselenggarakan di UNIPA pada tanggal 17 Juni – 12 Juli 2019, volunteer dari UNIPA dilatih dan dipandu oleh Mochamad Rifky selaku volunteer Tambora Muda


Sebelum kegiatan dilaksanakan, Rifky menjelaskan kepada para stakeholder UNIPA mengenai manfaat yang didapat oleh mahasiswa maupun universitas dalam program biodiverskripsi ini. Selain sebagai bahan acuan dalam evaluasi yang bertujuan untuk mengembangkan kualitas dan juga dapat mengetahui tren penelitian yang dilakukan universitas, Rifky juga menerangkan bahwa program ini akan sangat membantu dalam menunjang eksistensi universitas yang bersangkutan dan membuka peluang kerja sama antara universitas dengan peneliti dan lembaga yang berbasis nasional maupun internasional. Selain itu dijelaskan bahwa yang ditranskripsi hanyalah data-data temuan kehati yang tercantum dalam skripsi.

Pada hari selanjutnya sesi pertama pelatihan dibuka dengan materi tentang pengertian data dan pentingnya publikasi data yang diikuti oleh dua orang volunteer mahasiswa UNIPA yaitu Adriana Flora Mofu dan Hasanudin Kelsubun didampingi oleh dosen mereka Meliza S. Worabai. “Pada era digital ini, apapun serba digital mulai dari informasi, belanja, uang, hingga data sudah didigitalisasi, kami sangat mengapresiasi bahwa dari wilayah timur Indonesia ada universitas yang mewakili program ini, mungkin ini adalah salah satu rasa tidak mau tertinggal dengan universitas-universitas yang ada di Jawa maupun universitas yang berada di luar Papua, dan itu bagus” ucap Rifky.

Jenis literasi, sumber data, dan metode transkripsi menjadi materi kedua yang disampaikan. Ada berbagai macam sumber data yang dapat diolah di biodiverskripsi, antara lain skripsi, tesis, disertasi, maupun karya ilmiah dengan catatan semua jenis literasi yang ingin ditranskrip mencakup kehati yang berada di habitat aslinya, dan juga metode yang digunakan dapat diulang kembali.

Kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan metode dan format transkripsi yang digunakan, biodiverskripsi menggunakan Darwin Core yang merupakan standar dalam publikasi data keanekaragaman hayati secara internasional, format ini merupakan salah satu syarat agar data yang telah ditranskripsi dapat dipublikasi oleh GBIF yang merupakan pangkalan data kehati internasional.

Hari ketiga, sebelum memulai transkripsi menggunakan skripsi UNIPA. Volunteer diajak untuk implementasikan materi yang telah didapat pada hari sebelumnya dengan menggunakan studi kasus yang telah disediakan.
Pada minggu kedua, volunteer sudah dapat memahami alur dan protokol dalam melakukan transkripsi.

______________________________________________________________________

Jalan jalan dong.... Alam Papua yang luar biasa!


Weekend pertama berada di Papua, saya diajak oleh Bu Caty selaku dosen FAHUTAN UNIPA untuk ikut survey lokasi penelitian beliau di Distrik Kebar, Kabupaten Tambrauw. Sepanjang perjalanan Saya terkesima dengan suguhan pemandangan alam Papua, melihat burung kakatua dan burung rangkong berterbangan di alam bebas, dan melewati medan yang cukup menantang.


Pada hari terakhir di Papua, pak Akmal selaku staff UPT perpustakaan UNIPA mengajak Saya untuk mengunjungi salah satu tempat wisata alam yang berada di Distrik Momi Waren, Manokwari Selatan. Walaupun perjalanan memakan waktu yang cukup lama (sekitar 4-5 jam) dengan medan yang berlika-liku, tetapi semua terbayarkan sesampainya kami di lokasi.




You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment