Friday, February 22, 2019

Survei Masyarakat untuk Mengetahui Ancaman dan Tren Populasi Satwa Langka





Melalui “Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007 - 2017” yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia memiliki tujuan untuk dapat menjaga populasi liar orangutan yang dapat bertahan di tahun 2017. Dalam mencapai target ini, di Kalimantan, manajemen konservasi orangutan memerlukan informasi terkait ancaman dan pembunuhan yang terjadi terhadap populasi orangutan sekaligus tren populasi yang ada. Untuk itu, di tahun 2008 dan 2009 dilakukan sebuah survei di 512 desa di Kalimantan yang dipimpin oleh The Nature Conservancy bersama 21 NGO lainnya untuk mengambil data mengenai perspektif warga sekitar terhadap tren populasi orangutan. Upaya ini merupakan bentuk kolaborasi di bawah Borneo Futures, sebuah inisiatif yang melibatkan peneliti dari Indonesia, Sabah, UK, dan Australia untuk manajemen konservasi yang ada di Borneo. Hasil penelitian ini telah dipublikasi oleh Abram dkk. di jurnal ilmiah Diversity and Distributions tahun 2015.

Sesuai dengan lokasi survei yang dilakukan, target spesies dari studi ini merupakan orangutan Kalimantan (Pongopygmaeus) yang terdiridari 3 subspesies yaitu, P. p. pygmaeus, P. p. wurmbi, dan P. p. morio. Ketiga subspesies ini tersebar di Kalimantan, di bagian Kalimantan Barat terdapat beberapa populasi P. p. pygmaeus, di Kalimantan Tengah ada subspesies P. p. wurmbi, dan di Kalimantan Timur ada populasi P. p. mario. Untuk mencakup semua range populasi orangutan di Kalimantan, survei dilakukan di 6 area yang berbeda yaitu, (1) di dalam dan sekitar Taman Nasional Batang Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum di Kalimantan Barat, (2) dataran rendah Kalimantan Barat yang ada di Cagar Alam Gunung Niut, (3) utara dari Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah, (4) di dalam dan timur-laut dari Taman Nasional Sebangau, (5) di perbatasan Kalimantan Barat dan Tengah yang mencakup Taman Nasional Bukit Baka dan Bukit Raya (habitat subspesies P. p. pygmaeus dan P. p. wurmbi) dan (6) di dalam dan sekitar Taman Nasional Kutai di Kalimantan Timur.





Data yang mereka ambil sebagai bentuk response variables adalah: frekuensi dari penampakan orangutan, konflik orangutan-manusia yang terjadi, pembunuhan orangutan yang terjadi, dan persepsi terhadap tren populasi orangutan di area tersebut. Semua data ini akan masuk ke proses mapping disertai dengan predictor variables berupa : data tutupan lahan, range habitat orangutan, topografi, iklim, infrastruktur, dan suku/agama masyarakat. Dari analisis yang dilakukan oleh Nicola K. Abram dan rekan penelitinya yang lain , ada beberapa kombinasi/pola dari ancaman dan trenpopulasi yang terjadi di Kalimantan. Di sekitar habitat P. p. pygmaeus di Taman Nasional Batang Kerihundan Taman Nasional Danau Sentarum (area 1), hasil analisis memperkirakan bahwa populasi orangutan akan stabil atau bahkan naik karena area hutan yang banyak dan penampakan orangutan yang tinggi. Hanya saja, area ini juga memiliki prediksi tingkat konflik dan pembunuhan orangutan yang tinggi karena budaya memakan daging orangutan sebagai makanan.

Area 4 dan 5 yang merupakan habitat bagi subspesies P. p. wurmbi dan P. p. pygmaeus di perbatasan Kalimantan Barat menunjukkan trenpopulasi orangutan yang cukup stabil atau sedikit menurun (di Taman Nasional Sebangau). Sebelumnya, Taman Nasional Sebangau menjadi rumah bagi 6700 individu orangutan. Hanya saja, ancaman dalam bentuk penebangan liar, kebakaran hutan, dan konversi hutan menjadi perkebunan masih sangat tinggi. Di area 4, prediksi tingkat pembunuhan orangutan menjadi sangat tinggi dengan penurunan populasi yang besar dalam 10 tahun kedepan. Ancaman yang serupa juga ada di area 5 dengan tingginya prediksi angka pembunuhan karena perburuan orangutan sebagai makanan.

Area 2 dan 3 menunjukkan prediksi terjadinya kepunahan lokal untuk populasi orangutan yang ada di area ini. Sebelumnya, dataran rendah Kalimantan Barat diketahui menunjang hidup populasi orangutan yang besar. Namun, konversi hutan menjadi perkebunan menurunkan angka populasi orangutan dan sekarang tidak banyak hutan yang tersisa di area ini. Bagian utara Taman Nasional Sebangau masih memiliki area hutan yang besar, tetapi orangutan jarang ditemukan karena perburuan liar. Kedua area ini menunjukkan prediksi tinggi terjadinya pembunuhan orangutan yang dilakukan oleh responden survei.

Di Kalimantan Timur (habitat P. p. morio), prediksi kepunahan lokal untuk populasi orangutan sangat tinggi di 10 tahun kedepan. Resiko konflik dan prediksi pembunuhan orangutan yang tinggi berkaitan erat dengan konversi hutan dan degradasi habitat yang terjadi di area ini.


Dari data ini, rekomendasi strategi konservasi yang dirancang untuk tiap area akan berbeda. Untuk area seperti di Kalimantan Timur, diperlukan upaya konservasi reaktif karena dugaan kepunahan, resiko konflik, dan perburuan liar yang tinggi. Upaya konservasi proaktif diperlukan untuk area yang memiliki tren populasi orangutan stabil dengan resiko konflik yang tinggi seperti di sekitar Taman Nasional Batang Kerihun dan Danau Sentarum. Area 1 menunjukkan area dengan resiko perburuan orangutan yang tinggi sebagai sumber makanan, di area tersebut diperlukan edukasi konservasi dan program outreach yang ditargetkan kemasyarakat dan patrol yang lebih ketat. Untuk area dengan resiko konflik yang tinggi karena crop-raiding, diperlukan strategi mitigasi konflik yang damai. Area dengan tingginya konversi hutan dan degradasi habitat memerlukan proteksi habitat, manajemen konservasi yang baik di dalam perkebunan, edukasi konservasi kemasyarakat dan perusahaan perkebunan terkait, dan patroli lebih baik di dalam taman nasional dan perkebunan.

Ternyata dengan mewawancarai masyarakat, peneliti bisa memperkirakan tren populasi dan ancaman bagi satwa yang terancam kepunahan. Untuk mengetahui metode dan hasil penelitian yang lebih rinci, teman-teman bisa membaca publikasi Abram dkk. di tautan di bawah ini. Kira-kira bisa tidak ya metode ini digunakan untuk memprediksi trenpopulasi dan ancaman bagi spesies langka lainnya?

Paper summary by : Athena Syarifa

Paper:

Abram, N. K., E. Meijaard, J. A. Wells, M. Ancrenaz, A.-S. Pellier, R. K. Runting, D. Gaveau, S. Wich, Nardiyono, A. Tjiu, A. Nurcahyo, and K. Mengersen. 2015. Mapping perceptions of species' threats and population trends to inform conservation efforts: the Bornean orangutan case study. Diversity and Distributions 21:487-499. https://doi.org/10.1111/ddi.12286


Ingin berkontribusi untuk meringkas artikel ilmiah? Silahkan menghubungi kami melalui surel tambora.muda@gmail.com dengan subjek Paper Summary











You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment