Saturday, May 13, 2017

Unduh Unggah Ilmu Seputar Konservasi bersama Tambora dan Universitas Atmajaya Yogyakarta


Peserta Kuliah Umum Ilmu Lingkungan di Universitas Atmajaya Yogyakarta / Tambora
Senin, 20 Maret 2017- Kali ini Tambora diundang untuk sharing dalam Kuliah umum Ilmu Lingkungan di Fakultas Teknobiologi Universitas Atmajaya Yogyakarta. Tambora mendapat kesempatan untuk sharing pengalaman penelitian lapangan Babi Kutil Bawean, kondisi deforestasi Indonesia saat ini, dan perluasan jaringan anggota Tambora di kalangan mahasiswa.

Agen Tambora (Dwi Adhari Nugraha) memaparkan informasi mengenai Tambora Muda / Tambora


Pada pukul 18.30 WIB, acara dimulai dengan perkenalan mengenai Tambora oleh agen Tambora Jogja, Dwi Adhari Nugraha. Mahasiswa Universitas Atmajaya yang hadir dalam kuliah umum tersebut tampak antusias menanggapi paparan dari Tambora dengan adanya beberapa pertanyaan yang dilontarkan.

“Apakah Tambora menawarkan kegiatan penelitian konservasi yang bisa diikuti oleh anggotanya?” 

“Apabila kita sudah ikut bergabung, lalu apa yang kita lakukan di Tambora?” ujar salah satu mahasiswa Universitas Atmajaya Yogyakarta.

Tambora memiliki beberapa lingkup kegiatan diantaranya: membagikan informasi (lowongan pekerjaan konservasi dan penelitian kolaboratif), mentoring dan peer review, mengadakan dan memfasilitasi workshop dan seminar, publikasi media ekspresi Tambora. Anggota yang telah bergabung bersama Tambora, secara berkala akan mendapatkan informasi langsung via jejaring. Informasi dan kegiatan yang Tambora lakukan dapat dilihat di tamboramuda.org. 

Presentasi Agen Tambora (Mark Rademaker) mengenai penelitian Babi Kutil Bawean / Tambora
Paparan selanjutnya disampaikan oleh agen Tambora, Mark Rademaker mengenai penelitian Babi Kutil Bawean. Mahasiswa yang hadir sangat antusias mengikuti paparan presentasi dari member IUCN Wild Pig Specialist Group ini, pertanyaan cukup banyak dilontarkan setelah sesi presentasi.  Diantara banyak pertanyaan, ada pertanyaan yang cukup menarik dilontarkan oleh peserta. Salah satunya adalah pertanyaan di bawah ini:

“Indonesia kan memiliki biodiversitas yang tinggi, kenapa penelitian yang  dilakukan anda tentang Babi Kutil yang notabene bukan spesies yang sering diteliti?”

Indonesia memiliki 8 spesies babi dan 5 species diantaranya terancam, status Babi Kutil masih memiliki data yang kurang walaupun spesies ini unik secara genetik. Sangat sedikitnya penelitian terhadap spesies ini menjadikan penelitian sangat penting dilakukan (IUCN Wild Pig Workshop, 2013).

Agen Tambora (Uni Sutiah) memaparkan deforestasi di Indonesia dan implikasi terhadap biodiversitas / Tambora
Sesi selanjutnya adalah pemaparan deforestasi dan implikasinya terhadap biodiversitas yang disampaikan oleh agen Tambora, Uni Sutiah. Agen Tambora yang pernah bekerja bersama Forest Watch Indonesia ini ikut memberikan informasi mengenai potret kehutanan Indonesia saat ini. 

Diskusi yang interaktif terbangun dalam topik deforestasi, salah satu pertanyaan mengenai perkembangan peran pemerintah menanggulangi deforestasi dalam kebijakan One Map Policy.  

Kebijakan One Map Policy bertujuan untuk menghilangkan dikeluarkannya duplikat izin untuk lahan yang sama di suatu lokasi. Hal ini sangat krusial, karena apabila izin dan data tutupan tidak sesuai maka kehilangan tutupan hutan serta habitat bagi biodiversitas akan terjadi terus menerus. Salah satu sisi positif yang dapat diambil adalah kebijakan ini perlu dikawal oleh seluruh kalangan, terutama konservasionis. 

Sesi kuliah umum ditutup oleh Monika sebagai Anggota Tambora Muda sekaligus Dosen Ilmu Lingkungan di Universitas Atmajaya Yogyakarta dengan harapan lahirnya jiwa konservasionis di kalangan mahasiswa.

You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment