Friday, April 28, 2017

Tapir: The Magnificent Black and White

Happy Tapir Day, Selamat Hari Tapir Sedunia!

Penulis: Nuri Asmita



Sumber ilustrasi: www.tapirday.org



Jadi untuk memperingati Hari Tapir Sedunia, saya akan mencoba sedikit bercerita mengenai satwa unik ini sejauh yang saya ketahui.


Satwa ini dikenal dengan banyak nama. Di tanah melayu dia dikenal sebagai tenuk atau cipan, sedangkan di ranah Minang masyarakat mengenalnya dengan sebutan kudo arai. Namun secara nasional dan internasional satwa ini dikenal sebagai tapir ataupun tapir asia. Mungkin tidak banyak informasi yang menjelaskan tentang keberadaan satwa yang satu ini. Bahkan masih banyak yang tidak tahu bahwa mereka ada di alam sekitar kita. Hal ini menjadi sebuah indikasi bahwa masyarakat serta peneliti sekalipun  masih awam dalam hal mengenal satwa ini. Tapir memang tidak setenar dan terkenal seperti saudaranya, badak, bahkan pamornya dalam dunia konservasi kalah jauh dibandingkan badak. 


Meskipun demikian, tenyata tapir juga merupakan salah satu satwa penting dalam ekosistem hutan tropis yaitu sebagai penyebar biji atau seed dispersers sehingga  dikenal sebagai “The Gardener of The Forest”. Tapir adalah hewan herbivora dan selectiterhadap makanan. Menurut data dari Khan (1997), setidaknya ada 115 jenis tumbuhan yang menjadi pakan tapir dimana 75% adalah jenis yang juga dimakan oleh gajah.


Tapir merupakan satwa unik dan menarik namun masih sedikit peneliti yang tertarik untuk mengkaji dan melakukan studi tentang satwa ini. Oleh karena itu masih banyak hal-hal yang belum diketahui dari perilaku mereka. Selain itu sifat elusif dan nokturnal tapir membuatnya semakin sulit untuk diteliti. Secara genetik tapir lebih dekat kekerabatannya dengan badak yaitu sama-sama dari ordo Perissodactyla  atau jika diartikan kedalam Bahasa Indonesia adalah hewan yang berkuku ganjil. Berdasarkan speciesnya tapir digolongkan menjadi empat species yaitu Tapirus terrestrisTapirus pinchaque, Tapirus bairdii dan Tapirus indicus.

“Selain itu tapir juga merupakan salah satu satwa purba yang langka dan masih tersisa hingga sekarang sama seperti badak.” 




Sumber ilustrasi: Tapir Specialist Group



Daerah persebaran tapir adalah benua Amerika dan Asia Tenggara. Tiga species yang digolongkan peneliti ke dalam tapir “dunia baru” yaitu Tapirus terrestrisTapirus pinchaque, Tapirus bairdii  tersebar di benua Amerika dengan daerah persebaran meliputi Amerika Selatan. Sedangkan Tapirus indicus  tersebar di Asia bagian tenggara tepatnya di Peninsular Malaysia, Myanmar, sebagian kecil dari Thailand dan pulau Sumatra, Indonesia.



Sumber ilustrasi: Tapir Specialist Group, 2008



Di Indonesia sendiri, tapir hanya ditemukan pada tujuh propinsi dari delapan provinsi yang ada di Sumatra yaitu Sumatra Utara bagian selatan, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, dan Bengkulu. Belum diketahui sebab absennya tapir di Provinsi Aceh dan hingga saat ini belum ada peneliti yang berhasil menemukan alasannya secara ilmiah.



Sumber ilustrasi: Tapir Specialist Group, 2008

“Secara internasional, satwa ini menyandang status endangered atau genting dalam daftar merah IUCN semenjak tahun 1986 dan diperbaharui kembali pada tahun 2014 lalu.”

Satwa ini merupakan salah satu satwa yang langka dan dilindungi oleh pemerintah Indonesia sejak lama dan bukti perlindungan ini tertuang dalam UU No 5 tahun 1990. Tapir memiliki corak warna tubuh yang khas dan berbeda dari satwa lain pada umumnya yaitu hitam dengan pelana putih yang terdapat di bagian tengah badannya. Warna tubuh yang seperti ini membantu tapir dalam berkamuflase ketika berada di dalam hutan untuk menghindari predatornya. Warna hitam putih ini akan muncul ketika tapir sudah berumur delapan bulan. Berbeda dari satwa yang lain, pada fase juvenilenya tapir justru memiliki corak yang sangat berbeda dengan dewasanya yaitu warna coklat kehitaman dengan garis dan totol putih seperti corak yang terdapat pada juvenile babi hutan.



Selain warna tubuh yang unik, tapir juga memiliki alat penciuman seperti belalai namun pendek yang disebut dengan “prehensile trunk” atau belalai, alat ini berfungsi sebagai indra penciuman dan peraba karena tapir memiliki penglihatan yang buruk. Selain itu belalai ini juga membantu memudahkan tapir untuk mengambil pucuk-pucuk kayu dan buah yang terjatuh di lantai hutan. Prehensile trunk tapir diketahui tidak pernah berubah semenjak jutaan tahun yang lalu.


Sumber ilustrasi: Tiger Protection Unit, WWF Indonesia

“Tahukah kamu bahwa tapir juga merupakan satwa yang handal berenang dan menyelam?”

Hal ini mereka lakukan untuk menyebrangi sungai atau untuk mengambil tumbuhan air yang terkadang berada di dasar sungai sebagai pakan mereka. Beberapa fotografer sempat mengabadikan momen ketika lowland tapir (Tapirus terrestris) menyelam di dalam air. Salah satunya adalah foto karya fotograper Luciano Candisani yang merekam momen ketika species tapir ini menyelam menyebrangi disalah satu sungai di negeri samba, Brazil. Bukan hanya species ini yang tercatat bisa menyelam, dua saudaranya yang lain juga bisa melakukan hal tersebut, yaitu Tapirus bairdii dan Tapirus indicus. Sedangkan untuk species Tapirus pinchaque belum ada bukti yang mengatakan bahwa mereka bisa menyelam.


Sekian banyak fakta yang demikian menarik dari species ini tidak menjadikannya aman dari ancaman kepunahan. Daftar merah IUCN menyatakan bahwa saat ini diperkirakan kurang dari 2500 individu tapir Asia yang tersisa dan diprediksi akan terus berkurang sedikitnya 20% selama dua generasi yang akan datang (24 tahun).

“Ancaman terhadap satwa ini bukanlah berupa perburuan atau pemanfaatan satwa tapi lebih kepada deforestasi dan fragmentasi habitat.”

Sedikitnya informasi data dan penelitian mengenai jumlah populasi dan status populasi mereka juga menjadi salah satu faktor yang mempersulit langkah untuk usaha penyelamatan satwa ini. Hingga saat ini diketahui belum ada penelitian tentang estimasi populasi mereka di Indonesia secara menyeluruh. Maka dari itu diperlukan adanya penelitian lebih lanjut tentang satwa ini. Dari kekhawatiran ini, maka beberapa LSM yang berkolaborasi dengan pihak swasta dan KLHK bekerja sama untuk melakukan Island Wide Survey sebagai bentuk langka awal dalam rangka perlindungan terhadap species ini kedepannya.


Perjalanan untuk melindungi satwa ini masih panjang dan memerlukan perjuangan yang tidak mudah mengingat bahwa kita memulainya dari awal. Namun hal tersebut bukan berarti tidak mungkin. Kita bisa memulainya dari sekarang. Belum ada kata terlambat untuk memulai sesuatu selama kita yakin dan mau. Masih banyak satwa di luar sana yang memerlukan kita untuk bersuara bagi mereka, bukan hanya tapir. Mereka membutuhkan kita untuk menyuarakan hak mereka. Oleh karena itu mari berjuang untuk kelestarian alam Indonesia dan dunia, karena alam tidak membutuhkan manusia, tetapi manusia butuh alam.



Selamat Hari Tapir Sedunia, salam konservasi!  

You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment