Sunday, August 21, 2016

Jambore Hari Konservasi Alam Nasional 2016 : Konservasi Untuk Masyarakat



"If everybody works together for the conservation efforts, the species could survive for thousands of year" – Achmad Ariefiandy
         
Dunia global telah banyak mengakui bahwa negeri ini telah bergelimang harta kekayaan hayati. Setidaknya dari ujung barat hingga ujung timur, kepulauan yang bernama negeri Indonesia ini memiliki puluhan tipe ekosistem. Mulai dari tipe ekosistem terestrial hingga masuk ke jantung samudera. Di dalamnya, aneka flora fauna hidup bebas, liar dan berkembang.

Namun sudah selayaknya kita ketahui bahwa ditengah alam yang loh janawi itu, terselip sebuah tantangan besar. Kepentingan ekonomi makhluk yang bernama “manusia” dari generasi ke generasi telah menekan dan mengancam kekayaan sumber daya alam hayati tersebut. Maka sudah sangatlah jelas bahwa tantangan besarnya adalah bagaimana “melestarikan alam”. Jangan dulu tanyakan untuk siapa. Karena jawabannya tentu sudah jelas untuk Anda dan generasi Anda selanjutnya.

Salah satu wujud pelestarian nyata adalah dengan membentengi kawasan yang unik dan kaya. Terciptalah berbagai kawasan konservasi: Taman Nasional, Taman Wisata Alam, Taman Hutan Raya, Taman Buru, Cagar Alam dan Suaka Margasatwa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Memang sebuah dilema, penetapan sebuah kawasan menjadi kawasan konservasi bukan berarti membuat habitat dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya terlindungi dengan baik.

Kawasan – kawasan konservasi yang telah ditetapkan di seluruh Indonesia masih memiliki masalah yang mengancam kelestariannya. Salah satu ancaman tersebut adalah perilaku masyarakat lokal yang dinilai masih sangat eksploitatif. Penebangan liar, penyerobotan dan konversi lahan, perburuan liar, pembakaran lahan dan lain sebagainya masih kerap terjadi di kawasan yang berstatus kawasan konservasi. Alih – alih untuk melindungi keanekaragaman hayati di dalam suatu kawasan, kebijakan kawasan konservasi tersebut justru menimbulkan konflik di masyarakat lokal. Ketidaksamaan persepsi dan pandangan akan konservasi itu sendiri merupakan salah satu penyebab timbulnya konflik.  Banyak masyarakat yang hidup berbatasan langsung dengan kawasan konservasi tidak memahami secara benar arti kehadiran kawasan konservasi di daerah mereka. Ironisnya, bagi sebagian besar mereka menganggap bahwa  dengan keberadaan kawasan konservasi, maka hilanglah sudah mata pencaharian dan kebebasan mereka untuk hidup seperti sedia kala.

Berlandaskan pada Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2009, Hari Konservasi Alam Nasional diperingati setiap tanggal 10 Agustus. Penyelenggaraan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional ini sebagai upaya kampanye kepada masyarakat akan pentingnya konservasi alam untuk masyarakat. Pelaksanaan kegiatan inipun dikoordinir langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Konservasi Untuk Masyarakat”, menjadi tema yang diusung kali ini dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2016. Pantai karang sewu, Taman Nasional Bali Barat, menjadi saksi pegelaran akbar Jambore Hari Konservasi Alam Nasional yang dilaksanakan dari tanggal 8-11 Agustus 2016. Jambore ini merupakan salah satu rangkaian acara dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional. 

Sesuai tema yang diusung ; “Konservasi Untuk Masyarakat”, maka peringatan Hari Konservasi Alam Nasional kali ini memiliki salah satu tujuan utama yaitu memberikan edukasi dan peran aktif masyarakat dalam menyelamatkan ekosistem alam. Adapun peran aktif tersebut adalah tidak melakukan kerusakan terhadap kawasan – kawasan konservasi, tidak membuang sampah sembarangan, menanam jenis tanaman endemik dan jenis langka, hingga melepas satwa liar yang dilindungi ke habitat alam liarnya.

Jambore Kemah Konservasi Alam yang dilaksanakan di kawasan pantai karang sewu, Taman Nasional Bali Barat kali ini mengundang berbagai UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kader Konservasi, Kelompok Pecinta Alam, pelajar, generasi muda dan para mitra lingkungan dan masyarakat lainnya. Setidaknya 300 lebih peserta yang diundang dari seluruh pulau di Indonesia hadir di acara Jambore Kemah Konservasi Alam Nasional ini. Dengan dikumpulkannya dalam acara Jambore Kemah Konservasi Alam ini diharapkan adanya saling tukar pengalaman dan cerita antar sesama penggiat konservasi dari berbagai daerahnya masing – masing.

Sejak bulan Juli hingga Agustus rangkaian acara peringatan Hari Konservasi Alam Nasional telah mulai dilaksanakan. Pelatihan masyarakat dalam penangkaran Jalak Bali, kegiatan apresiasi kepada lembaga/pengusaha peduli konservasi, pemberian bantuan indukan satwa penangkaran untuk usaha dan penangkaran masyarakat, hingga lomba fotografi dan karya tulis dengan tema “Konservasi Untuk Masyarakat” juga telah dilaksanakan. Masyarakat umum yang mungkin belum memahami secara mendalam mengenai makna konservasi menjadi target utama rangakaian acara ini. Dengan harapan adanya acara Road To Hari Konservasi Alam Nasional tersebut menjadi sebuah batu loncatan untuk menciptakan keharmonisan dalam mengkonservasi alam antara masyarakat dan berbagai pihak yang bertanggung jawab.

Pada tanggal 9 Agustus 2016, diawali dengan pemukulan gong oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Tachrir Fathoni yang dalam waktu kali ini mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar yang berhalangan hadir telah  mengawali rangkaian acara Hari Konservasi Alam Nasional 2016. Tarian, musik, makanan dan berbagai kebudayaan khas Bali juga ditampilkan untuk menandai bahwa acara besar peringatan Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2016 telah dimulai. Kebudayaan Bali sungguh sangat memukau, seolah menjadi sebuah refleksi bahwa kebudayaan yang dimiliki oleh negeri ini juga sama kayanya dengan keanekaragaman hayati yang kita miliki dan harus kita jaga bersama.

Setelah pembukaan berlangsung, acara dilanjutkan dengan Field Trip mengelilingi Taman Nasional Bali Barat. Dari 300 lebih peserta yang hadir dari berbagai daerah diseluruh Indonesia, akhirnya dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk menikmati keindahan Taman Nasional Bali Barat. Adapun tujuan lokasi yang dituju adalah mulai dari hutan mangrove, Pulau Menjangan untuk melakukan diving, wisata religi, atraksi kerang mutiara, jungle tracking, animal birdwatching, snorkling hingga kunjungan ke desa Blimbing Sari yang mendapat sebutan sebagai desa pariwisata yang mampu mengkonservasi lingkungannya dengan baik telah dilakukan. Kegiatan  Field Trip ini lebih bertujuan untuk memperkenalkan mengenai keanekaragaman ekosistem yang dimiliki oleh Taman Nasional Bali Barat dan juga masyarakat yang hidup disekitar Taman Nasional Bali Barat tersebut.

Hingga pada akhirnya pada tanggal 10 Agustus 2016, dengan ditemani matahari terbit nan indah di ufuk timur pantai karang sewu Taman Nasional Bali Barat seolah telah menyambut hari besar peringatan Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2016. Seluruh peserta kembali berkumpul dan berbaris rapih di lapangan utama pantai karang sewu. Pagi itu kami siap menjadi saksi untuk memperingati hari besar konservasi alam nasional. Upacara berlangsung dengan hikmat dan lancar. Sebuah moment yang mungkin cukup membekas dan membuat hati para peserta tersentuh adalah moment ketika pembacaan deklarasi Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2016. Deklarasi ini dibacakan langsung oleh salah satu peserta yang telah diutus sehari sebelumnya. Deklarasi dibacakan di depan Dirjen KSDAE dan jajaran pejabat tinggi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan lainnya. Dan inilah isi deklarasi yang cukup menyentuh hati ;

Indonesia dianugerahi keanekaragaman hayati yang sangat kaya dan berlimpah. Sebagai wujud syukur, kami berkomitmen untuk lebih memaknai arti keanekaragaman hayati untuk kehidupan manusia. Oleh karenanya, kami bertekad untuk terus melestarikan, mempelajari, dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan” – Taman Nasional Bali Barat 2016.

Deklarasi tersebut seolah menjadi sebuah lembaran baru kembali untuk memulihkan dan mengkonservasi alam Indonesia ini agar lebih baik lagi kedepannya. Dengan pemahaman yang sama dan gerakan langkah yang harmonis dalam menjaga alam dan lingkungan, kita hidup menghirup udara bersih, meminum air bersih, mengonsumsi pangan berkualitas dan berkecukupan. Saya yakin Indonesia akan kembali menjadi negara maju dan makmur, sehat dan sejahtera. Alam menyediakan energi terbaik dan berkualitas dalam menopang seluruh kehidupan kita. Anak cucu dan generasi kita selanjutnya tentu juga memiliki hak yang sama untuk menikmati apa yang pernah kita nikmati saat ini. Dengan Jambore Hari Konservasi Alam Nasional ; Konservasi Untuk Masyarakat, merupakan sebuah bukti sikap, perilaku dan sebuah batu loncatan yang sangat baik untuk kembali memulai mengkonservasi lingkungan alam kita pada saat ini juga. Jangan tanyakan lagi siapa yang harus bertanggung jawab, jangan salahkan lagi pihak yang harusnya bertindak lebih cepat, karena percayalah semua akan baik – baik saja jika Anda mau memulainya dari hal yang kecil sekalipun dan saat ini juga. Mari bersama kita lestarikan keindahan alam negeri kita ini.

Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2016
Muhammad Azmi

You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment