Friday, July 22, 2016

Seri Penelitian Komodo (2): Kisah klasik di pulau Longos

Ditulis oleh : Shafia Zahra

Kegiatan wawancara di Pulau Longos

Tidak pernah terbersit dipikiran saya sebelumnya bahwa saya akan tinggal di suatu pulau terpencil yang namanya saja belum pernah saya dengar.  Longos merupakan pulau terisolasi yang terletak di utara daratan utama Flores. Meskipun kecil, pulau ini dihuni oleh berbagai suku seperti suku Bima, Bajo, Bugis, Selayar, Makassar, dan Buton yang tersebar di empat kampung yaitu Rajamina, Bajo, Mangge, dan Baru. Sementara itu bahasa yang digunakan pada umumnya bahasa Bima, Bajo, dan Bugis. Keberagaman tersebut menyebabkan pulau Longos kaya akan sudut pandang dan adat istiadat. Hal yang cukup mengejutkan bagi pendatang yang baru pertama kali menginjakan kaki di daerah timur.

Kedatangan saya ke pulau Longos merupakan salah satu rangkaian acara dari ekspedisi Komodo Survival Program. Rangkaian kegiatan ekspedisi kali ini terdiri dari berbagai kegiatan seperti inventarisasi herpet dan burung, analisis vegetasi, pemasangan camera trap untuk komodo dan pemetaannya, dan penelitian sosial masyarakat. Pada kesempatan kali ini saya bertanggung jawab untuk melakukan penelitian dengan topik analisis konflik dan persepsi masyarakat terhadap  komodo dan alam sekitar. Ada sekitar 10 orang yang terlibat dalam kegiatan ekspedisi kali ini dan masing-masing memiliki keahliannya sendiri. Kami yang pada awalnya tidak saling mengenal tiba-tiba menjadi satu kelompok yang kompak dan menamakan diri tim Hap-Hap.

Tim Hap Hap beserta tuan rumah. Dari kiri ke kanan: Azmi, Om Jeki, Acho Yosman, Sanggar, Kang Deni, Pak Afen, Kang Achmad, Mas Feri, Mansur, Yudi, Akbar, Mbak Krisni, Shafia, Ade.

Analisis konflik dan persepsi masyarakat dilakukan dengan melakukan wawancara menggunakan kuesioner yang telah disusun oleh tim sosial masyarakat KSP (Ardiantiono, Puspita Insan Kamil, dan Shafia Zahra). Dalam pelaksanaannya sendiri saya dibantu oleh anggota tim di lapangan. Banyak hal yang berusaha kami gali melalui kuesioner tersebut, sehingga wawancara berlangsung cukup lama yaitu sekitar 45 menit bahkan sampai 1 jam 30 menit. Lama durasi wawancara merupakan tantangan tersendiri bagi pewawancara karena fokus responden biasanya sudah mulai terpecah.

Hasil dari wawancara yang kami lakukan menunjukan bahwa hewan anjing, biawak dan komodo memiliki frekuensi serangan terhadap hewan ternak yang paling tinggi. Sehingga rawan menimbulkan konflik. Serangan oleh komodo kemungkinan dipicu oleh tidak adanya mangsa utama komodo di Pulau Longos. Sementara itu keberadaan anjing feral yang ditelantarkan oleh majikannya memang selalu menjadi masalah dimanapun, maka dari itu tindakan proaktif dari masyarakat sekitar sangat diperlukan. Namun, saya tidak akan membahas mengenai hasil penelitian secara mendetail disini, nantikan saja artikel ilmiahnya. Kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman yang saya dapatkan ketika mengumpulkan data dari para penduduk di Longos. Semoga cerita saya dapat memperkaya sudut pandang kalian dalam memaknai konservasi.

Tantangan lain selain lamanya durasi wawancara  yaitu pola pikir sebagian besar masyarakat pulau Longos yang tertutup terutama di Kampung Bajo. Masyarakat di Kampung Bajo cenderung memiliki tingkat kecurigaan yang tinggi. Sekali-dua kali saya bahkan pernah setengah diusir ketika melakukan wawancara. Alasan kecurigaan mereka klasik, mereka takut kedatangan kami membuat pulau Longos dijadikan kawasan konservasi dan mereka menjadi tidak bebas mengeksploitasi alam. Penggunaan bius dan bom ikan memang masih merupakan hal umum yang dilakukan masyarakat kampung Bajo. Anehnya, masyarakat kampung Bajo masih juga kesulitan mendapatkan ikan setiap harinya karena para nelayan lebih memilih menjual ikan ke daratan utama Flores yang menghasilkan lebih banyak uang. Konflik di kampung Bajo juga cenderung ditutupi, dari pendekatan interpersonal kepada beberapa orang kami mendapat informasi bahwa sebenarnya beberapa kali orang kampung Bajo berburu komodo, entah sebagai hobi atau memang karena konflik.

Sedikit demi sedikit saya mulai menemukan pendekatan paling ampuh untuk mendapatkan informasi di kampung Bajo. Kunci paling utama adalah empati. Posisikan diri kita di tempat mereka, pelajari beberapa kata sederhana dalam bahasa mereka, dan jangan menghakimi mereka. Ikutlah tertawa ketika mereka menganggap berburu komodo adalah hal yang lucu, barulah beri pengertian secara perlahan. Empati adalah hal yang penting karena pada dasarnya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang mau dihakimi dan tidak ada yang lebih membahagiakan daripada menemukan seseorang yang mau mendengarkan apa yang ada di kepala kita tanpa memberikan suatu tendensi apapun. Berkat hal tersebut saya yang pada awalnya dimusuhi justru mendapatkan kenang-kenangan berupa gelang yang dibuat dari sisik penyu yang telah mati. Semoga saja itu memang penyu yang sudah mati dan bukan hasil buruan ya. Lalu setiap saya melewati jalanan kampung Bajo segerombolan bocah kecil akan mengikuti saya dan memanggil-manggil nama saya

Berbeda dengan kampung Bajo, kampung Baru cenderung lebih terbuka terhadap pendatang dan memiliki pandangan yang lebih positif terhadap alam sekitar sama dengan kampung Rajamina. Kampung Mangge juga memiliki persepsi yang negatif tetapi mereka terbuka dalam memberikan informasi yang apa adanya. Walaupun secara geografis letak kampung-kampung ini berdekatan, pola pikir mereka tidak bisa bercampur baur dan malah saling bertubrukan. Tidak jarang konflik internal antar kampung terjadi walau tidak pernah sampai pada tindak kekerasan karena jika dirunut silsilahnya hampir seluruh penduduk pulau Longos merupakan saudara.

Ada suatu gengsi tersendiri bagi mereka untuk tidak saling berkompromi atas nama suku. Kampung Baru dan Rajamina didominasi oleh suku bima dan bugis yang mendeklarasikan diri sebagai suku yang sopan, ramah, dan beradab. Sementara Kampung Mangge dan Bajo didominasi suku Bajo yang mendeklarasikan diri sebagai pengarung lautan sejati yang bijaksana dan mengerti bagaimana dunia diluar sana berputar. Hasilnya adalah perang dingin yang tidak ada ujungnya.

Meskipun begitu, masih ada harapan untuk pulau Longos. Guru-guru dan aparat desa cenderung memiliki pandangan yang lebih positif terhadap alam dan komodo di kampung manapun mereka tinggal. Hal ini membuktikan bahwa edukasi baik secara formal maupun informal adalah hal dasar yang membentuk pola pikir seseorang karena hanya seorang sarjana yang diizinkan menjadi guru di Pulau Longos dan hanya mereka yang bijak yang mendapat posisi sebagai aparat desa. merekalah yang memiliki tanggung jawab untuk mencetak generasi yang peduli akan lingkungan. Selain itu beberapa orang yang terbiasa hidup merantau juga dapat diandalkan, mereka yang terbiasa melihat dunia luar memang memiliki pandangan yang lebih luas dan visioner. Jika diajak berdiskusi lebih lanjut, hati masyarakat pulau Longos sebenarnya baik. Trauma dan perilaku paranoidlah yang membuat mereka sulit membuka diri. Memang merupakan hal yang wajar bagi seseorang untuk menolak hal yang tidak mereka ketahui  dan tugas kitalah untuk memberi tahu secara perlahan


Pengalaman saya di Pulau Longos mengajarkan saya bahwa konservasi merupakan masalah sosial. Metode dan alat secanggih apapun tidak bisa menyelamatkan alam apabila mereka yang menghuni wilayah tersebut masih memiliki pola pikir eksploitatif. Masyarakat pulau Longos pada umumnya adalah nelayan dengan pola pikir pemburu-pengumpul yang hanya hidup dihari ini dan tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dimasa depan. Sayangnya mengubah budaya dan pola pikir yang telah mengakar selama puluhan atau bahkan ratusan generasi tidak semudah membalikan telapak tangan. Pergelutan antara kebutuhan hidup manusia dan kelestarian alam merupakan suatu permasalahan klasik yang perlu dipecahkan oleh kita, para konservasionis.

“I used to think the top environmental problems were biodiversity loss, ecosystem collapse, and climate change. I thought that with 30 years of good science we could address those problems but I was wrong. The top environmental problems are selfishness, greed, and apathy -and to deal with those we need spiritual and cultural transformation -and we scientist don’t know how to do that”
_Gus Speth.


Catatan : Deskripsi saya mengenai sifat yang dimiliki suatu suku di pulau Longos tidak berlaku secara umum melainkan gambaran kasar yang mungkin hanya terjadi di pulau Longos. Jangan menghakimi seseorang dari suku mereka sebelum benar-benar mengenalnya.

You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment