Saturday, March 26, 2016

Seri Penelitian Komodo (1): Sang Naga dari Indonesia Timur

Ditulis oleh Puspita Insan Kamil & Shafia Zahra



Saat masih kecil, jika kita bertumbuh di era 90-an tentu kita mengingat Si Komo. Kami masih ingat bentuknya persis dengan corak hitam putih yang belakangan baru kami tahu, Kak Seto membuat boneka itu dari boneka naga yang ia beli di Amerika Serikat. Setidaknya, yang kali ini kami hadapi adalah Sang Naga sebenarnya: Varanus komodoensis atau lebih kita kenal sebagai komodo.

Tulisan ini adalah permulaan dari seri mengenai proyek penelitian Komodo yang akan kami lakukan bersama dengan para peneliti dari lembaga Komodo Survival Program (KSP) - yang sudah 14 tahun terus berkontribusi dalam perlindungan Komodo. Pertemuan kami dengan tim KSP sebenarnya diawali oleh kerjasama antara Ardian yang merupakan salah satu anggota tim kami dengan KSP sebagai volunteer pada tahun 2013. Kami berhubungan dengan KSP pada awalnya untuk sebuah hibah yang berujung pada undangan untuk datang ke Pulau Komodo dimana kami bisa langsung menyaksikan Sang Naga di habitatnya dan bagaimana tim KSP bekerja dalam upaya konservasi satwa endemik Indonesia Timur ini.

Sekilas tentang komodo. Kadal ini memiliki tubuh yang mirip dengan biawak tapi berukuran lebih besar, panjang komodo bisa mencapai 3 meter dengan bobot lebih dari 100 kg (dan kami berhasil menemui komodo dengan ukuran raksasa ini!). Komodo merupakan hewan pemakan bangkai dan pendeteksi jejak yang baik. Mereka dapat mendeteksi jejak yang jauhnya 9 km menggunakan lidahnya yang bercabang. Komodo dapat memakan hewan yang memiliki berat 80% bobot tubuhnya dalam sekali makan, sehingga apabila dalam keadaan kenyang mereka dapat tidak makan selama satu bulan. Uniknya lagi komodo merupakan perenang yang baik dan ketika masih muda merupakan pemanjat pohon yang handal. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut tidaklah mengherankan jika komodo menjadi predator puncak di habitatnya.

Rusa timorensis; mangsa utama di Pulau Komodo
Perjalanan kami dimulai dari Labuan Bajo, kemudian dijemput oleh Bang Sidiq, nahkoda kapal kami menuju resor Taman Nasional di Pulau Komodo, tepatnya Loh Liang. Tak lama kami bergabung dengan tim KSP yang sudah lebih dahulu di sana untuk beberapa hari. Kami mengikuti kegiatan monitoring komodo mereka yang mencakup memasang dan mengatur perangkap komodo, morfometri, juga memasang umpan. Untuk dua anggota kami, hal ini merupakan hal baru yang sangat seru - tanpa lupa bahwa komodo tetap satwa liar yang patut disegani dan diwaspadai karena dapat menyerang sewaktu-waktu. Tapi tetap saja - karena momen pertama adalah segalanya, menyaksikan sang naga secara dekat tetap membuat hati berdebar (bertemu gebetan nggak ada apa-apanya).


Selain itu, Pulau Komodo juga merupakan rumah bagi hewan laut yang cantik, lumba-lumba, ikan terbang, tukik, nudibranchia dapat ditemukan dengan mudah. Kami juga menemukan satu spesies anggrek liar yang cantik di pulau tersebut, kemungkinan merupakan Vanda limbata Flores. Kami juga diberi waktu untuk mengenal situs ini lebih lanjut karena ada beberapa hal mengenai Pulau Komodo yang belum kami tahu sebelumnya. Pada suatu malam kami menginap terpisah dari tim. Di pulau ini, terdapat sebuah kampung bernama Kampung Komodo yang dihuni sekitar 1700 penduduk, mayoritas adalah nelayan dan pembuat kerajinan sebagai bagian dari pariwisata Pulau Komodo. Mereka hidup tidak langsung bersinggungan dengan Komodo meski pernah ada beberapa kejadian singgungan langsung dengan Komodo. Mereka juga sudah mulai bercocok tanam, sebelumnya mereka memasok semua kebutuhan dari Labuan Bajo - umumnya jagung, kemudian kangkung ladang, juga semangka.


Tim KSP adalah salah satu tim lapangan terbaik yang pernah kami temui. Mereka profesional, teliti, waspada, sangat saintifik (dan menularkan spirit ilmiahnya kepada masyarakat lokal - ini yang terpenting), dan tidak lupa untuk berkelakar. Satu hal lagi - mereka memiliki koki lapangan terbaik! Dari ikan, kue, hingga spaghetti, kadang kami lupa kalau ini bukan di rumah. Ke depannya, kami bersama KSP akan melakukan riset potensi konflik di masyarakat di tiga situs: satu situs pilot dan dua situs di Flores Utara. Pertanyaan besar dari riset kami adalah “apakah manusia dan komodo dapat hidup berdampingan?”. Hasil riset ini dapat dimanfaatkan dalam pembuatan strategi mitigasi konflik di masa mendatang. Sampai sekarang kami baru sampai pada tahap survey lokasi dan fiksasi metode yang akan digunakan. Nantikan kelanjutan proyek ini dalam Seri Penelitian Komodo selanjutnya.

Sekilas tentang kami

Tim kecil kami terdiri dari tiga orang berlatar belakang berbeda. Dua dari kami Shafia dan Ardian memiliki latar belakang Biologi sementara Puspita berlatar belakang Psikologi. Sebelum kami mendapat kesempatan bergabung dengan tim Komodo Survival Program, ada sebuah proses panjang, berbagai tulisan, proposal, diskusi hingga debat kusir di antara kami. Tapi kami sadar itu adalah bagian dari dinamika kelompok yang harus dialami bersama untuk menyatukan beberapa kepala dengan pola pikir dan sudut pandang yang berbeda. Sebuah harga untuk membuat karya yang bermanfaat, kami pikir sudah seharusnya dibayarkan di depan, dan kami harap ini juga mendorong teman-teman untuk melakukan hal yang sama - serta optimis pada kolaborasi multidisiplin.

You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment