Friday, March 18, 2016

Konservaksi: Aku, Kamu, dan Kantong Plastik

Jika seratus orang dikumpulkan dan masing-masing harus menyebutkan sepuluh barang berbeda yang terbuat dari plastik, niscaya tidak ada yang kehabisan ide. Sisir plastik, sikat gigi plastik, alat makan plastik, botol plastik, ... bahkan dalam satu kali belanja bulanan ada puluhan macam plastik yang dibeli masyarakat Indonesia. Sebut saja segala kebutuhan mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut; hampir tidak ada yang bisa lepas dari plastik. Kalau begitu, apakah peraturan kantong plastik berbayar yang diujicobakan pemerintah sejak Februari 2016 lalu ini sia-sia? Penulis akan mencoba mengajak pembaca memahami gambaran besar peraturan kantong plastik berbayar yang sudah diperjuangkan selama puluhan tahun oleh para aktivis lingkungan Indonesia.

Apa Hubungan Plastik dengan Konservasi?

Salah satu langkah yang perlu diambil ketika kita melakukan aksi konservasi adalah menyadari bahwa manusia dan berbagai elemen di Bumi saling terkait. Kita berbagi tempat tinggal tidak hanya dengan manusia lain melainkan juga seluruh spesies yang tinggal di Bumi. Indonesia, sebagai negara kepulauan yang menjadi pertemuan dua samudera, turut menjadi bagian dari area Bumi yang saling berkaitan ini. Semua yang ada di perairan Indonesia dapat menyebar baik ke Samudera Hindia maupun Pasifik berkat arus laut global sehingga apa yang terjadi di perairan Indonesia berdampak terhadap samudera-samudera di dunia. Sampah plastik yang ada di laut sejauh ini bahkan sudah terkumpul menjadi beberapa pulau di utara Samudera Pasifik!

Fakta bahwa kita saling terkoneksi ini digunakan Jenna R. Jambeck dari Universitas Georgia dan rekan-rekannya untuk menghitung berapa banyak sampah plastik yang ada di laut akibat ulah manusia. Dengan memadukan data sampah salah-kelola yang dihasilkan penduduk pantai seluruh dunia dan tren pertumbuhan populasi manusia, Jambeck dan rekan-rekannya menemukan bahwa setidaknya 4,8 juta ton sampah plastik memenuhi lautan Bumi sejak tahun 2010. Sampah salah-kelola adalah sampah yang tidak dikelola dengan baik oleh infrastruktur penduduk lokal. Jika ada yang pernah melihat sandal jepit rusak atau bungkus makanan ringan tergeletak sembarangan di pantai seakan sudah ada di sana bertahun-tahun, inilah yang disebut sampah salah-kelola. Jumlah sampah semacam ini bervariasi di setiap negara di Bumi, bergantung kepada jumlah penduduk dan efektivitas pengelolaan sampah di negara tersebut. Berdasarkan informasi ini, Indonesia adalah negara kedua penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia; bukan prestasi yang membanggakan.


Sedikit gambaran tentang banyaknya sampah plastik yang dibuang penduduk Indonesia sejak 1980 dari Sungai Citarum yang dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia (Sumber: Richard Shears, dailymail.co.uk)


Lalu kenapa kalau laut penuh plastik? Bayangkan botol bekas minum, gelas dari minuman kemasan, bungkus makanan ringan, sandal jepit rusak, semuanya bertebaran di laut. Salah satu di antaranya dimakan ikan yang kita makan. Pilihannya dua: ikan itu mati karena kerusakan saluran pencernaan atau ikan itu hidup cukup lama sampai kita memakannya dan racun dalam plastik masuk ke tubuh kita. Tidak hanya ikan, burung laut juga mengira plastik makanan (apalagi kalau memang bekas bungkus makanan). Berkurangnya burung akan mengganggu tingkatan trofik di laut dan lebih lanjut memengaruhi keseimbangan ekosistem laut. Banyak organisme laut yang menderita dari jutaan ton plastik yang masih ada di laut sampai saat ini, yang selama manusia belum berhenti membuangnya ke laut, masih akan terus bertambah.

Apakah plastik hanya merusak laut? Tidak, tanah juga rusak karena plastik sulit diurai dan mengganggu komposisi tanah. Jika terurai di tanah pun, plastik memiliki banyak zat kimia yang tidak ramah untuk teman-teman pengurai kita. Jika plastik dibakar pun, ia akan melepaskan racun dioksin ke udara. Mengetahui semua ini, kita masih butuh plastik. Adakah jalan keluar?

Kantong Plastik Ramah Lingkungan

Kebanyakan orang memilih penjelasan yang paling mudah dalam menyadarkan orang untuk mengurangi konsumsi plastik: plastik sulit diurai. Klaim yang banyak beredar di masyarakat adalah plastik membutuhkan waktu ratusan atau bahkan ribuan tahun untuk membusuk menjadi elemen yang dapat digunakan oleh siklus alam. Karena "plastik sulit diurai" lah yang dilihat sebagai masalah inti, tidak aneh kan kalau orang menganggap solusinya adalah "plastik yang mudah diurai"?

Ada dua jenis plastik yang mudah diurai beredar di pasaran: plastik oxo dan plastik berbasis tumbuhan. Plastik oxo adalah plastik biasa dari bahan turunan minyak bumi yang diberi zat aditif tertentu sehingga polimer plastik lebih mudah hancur sementara plastik berbasis tumbuhan adalah plastik yang dibuat dari serat tumbuhan. Jenis plastik yang pertama, walau lebih murah, sayangnya tidak lebih sehat untuk lingkungan.

Dengan plastik oxo, waktu yang dibutuhkan alam untuk memecah plastik memang berkurang, namun plastik itu sendiri tidak berubah. Bagian-bagian kecil plastik hasil pemecahan yang cepat ini tetap tidak dapat begitu saja digunakan oleh alam. Selain itu, plastik jenis ini membutuhkan suhu tinggi dan oksigen untuk terurai; hal yang jelas tidak akan terjadi kalau plastik ini pada akhirnya dikubur di TPA.  Selain itu, plastik oxo dikritik zat aditifnya merendahkan nilai plastik yang dengan sedikit bantuan sains bisa diubah kembali menjadi minyak. Plastik berbasis tumbuhan, murni terbuat dari tumbuhan, terdiri dari bahan karbon yang dengan mudah dicerna bakteri kembali menjadi bentuk paling sederhana yang bisa digunakan oleh alam tanpa efek lanjutan apa-apa. Plastik berbasis tumbuhan ini populer di Indonesia dengan istilah bioplastik.

Yang manakah “plastik ramah lingkungan” yang beredar di Indonesia? Di banyak pusat perbelanjaan yang mengaku menggunakan kantong plastik ramah lingkungan, salah satu jenis plastik yang umum adalah plastik oxium. Mereka menambahkan apa yang disebut oxium dalam pembuatan kantong plastik. Zat kimia ini mengurangi ketahanan kantong plastik dan membuat plastik menjadi fragmen-fragmen kecil dalam waktu maksimal dua tahun. Sayangnya tidak banyak informasi tentang cara kerja oxium secara spesifik. Namun, tulisan ini memuat dugaan menarik tentang plastik oxium. Singkat kata, selama plastik masih dibuat dari minyak bumi, ia masih tidak ramah lingkungan.

Banyak pihak yang sudah menyadari ini, tentu saja. Karena itu, banyak perusahaan penghasil makanan dan minuman kemasan berupaya mengembangkan plastik dari bahan yang tidak hanya dapat terurai dengan cepat melainkan juga kembali sepenuhnya menjadi humus. PlatIndonesia sedang memulai beberapa pengembangan bioplastik dari berbagai jenis tumbuhan semisal ubi kayu, jagung, tandan kosong kelapa sawit, pisang, dan lain-lain. Sayangnya inovasi-inovasi ini belum cukup matang untuk diproduksi dalam skala besar. Sambil menunggu mereka berhasil, kita bisa ikut dalam pengembangan inovasi, atau setidaknya mereduksi konsumsi plastik dan mendaur ulang plastik yang telah kita gunakan.

Antara Aku, Kamu, dan Kantong Plastik

Kantong plastik berbayar yang diujicobakan pemerintah bukanlah tentang masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk sesuatu yang relatif tidak penting. Peraturan ini tidak hendak mengabaikan manfaat plastik yang luar biasa bagi kehidupan manusia, melainkan hendak mengajak masyarakat untuk menilik kembali perilakunya dalam menggunakan barang-barang sehari-hari. Kita masih perlu plastik, tapi tidak perlu terlalu banyak. Kita masih bisa menggunakan plastik yang sebelumnya kita pakai karena karakter plastik yang nyaris abadi. Kita bisa mengubah bentuk plastik jadi barang-barang yang bermanfaat (bisa jadi tas [http://www.larizo.com/kerajinan-tangan-tas-cantik-terbuat-dari-plastik-bekas/] atau barang-barang lain [insert http://www.wirasejati.com/2015/01/30-kerajinan-dari-botol-bekas-mengagumkan.html], dan masih banyak lagi jika mau mencari di internet).

Karena masalah ini awalnya tentang sampah, kebijakan ini perlu didukung pengelolaan sampah yang baik juga. Dalam hal ini, penulis perlu mengingatkan bahwa masyarakat tidak perlu menunggu pemerintah melakukan sesuatu. Banyak tempat di Indonesia yang sudah bergerak masing-masing mengelola sampah di kawasan tempat tinggal mereka, pengelolaan bank sampah, dan masih banyak lagi! Pemerintah pun tidak sedang tidak berbuat apa-apa. Kita bisa bergerak bersama.

Secara individu, kita sudah mulai bisa melakukan hal-hal kecil yang bermanfaat untuk mengurangi, menggunakan ulang, dan mendaur ulang kantong plastik. Kita bisa mulai dari punya tas belanja sendiri yang dibawa ke mana-mana sehingga tak perlu menambah permintaan kantong plastik. Kita bisa mulai dari punya botol minum sendiri sehingga tidak perlu membeli minuman kemasan. Banyak sekali tindakan individu yang jika dilakukan banyak orang membawa banyak manfaat. Bayangkan jika penduduk satu kota mengurangi konsumsi kantong plastik bulanan setidaknya separuh dari biasanya!

Kantong plastik berbayar mungkin bukan solusi yang akan langsung menyelamatkan dunia. Teknisnya masih kurang lengkap dan banyak celah yang membuat peraturan ini tidak efektif mengurangi kantong plastik. Namun, dengan memberi nilai lebih terhadap kantong plastik yang selama ini digunakan masyarakat begitu saja, setidaknya masyarakat Indonesia kembali sadar tentang dampak perilaku sehari-harinya terhadap lingkungan. Mencari kesalahan orang lain dan berusaha mengubah orang lain memang lebih mudah daripada menyadari apa yang bisa dilakukan diri sendiri dan mengubah diri sendiri. Daripada menuding pihak-pihak yang kita anggap lebih merusak Bumi, bukankah lebih baik berkaca dan mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan untuk Bumi?

Munich, 18 Maret 2016
Sabhrina Gita Aninta,
Database Person Tambora

[Serial "Konservaksi" akan menjabarkan cara-cara mudah bagi segala kalangan untuk turut serta dalam upaya pelestarian keragaman hayati Indonesia dan akan tayang setiap akhir bulan.]

Catatan:
Mohon maaf untuk keterlambatan serial Konservaksi Februari (sehingga menjadi Maret). Penulis menerima segala diskusi dan pertanyaan tentang kehidupan pasca ketiadaan kantong plastik! Atau ada yang ingin dikoreksi atau dibagi? Silakan tuliskan semuanya di kolom komentar.

You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment