Sunday, March 27, 2016

GAJAH YONGKI DAN RATUSAN GAJAH TANPA NAMA YANG MATI DIBURU

Ditulis oleh Ardiantiono

 Sumber gambar: WWF/Edi Sabarudin
Rabu lalu, akhirnya saya berkesempatan untuk mengunjungi Pusat Konservasi Gajah (PKG) di Taman Nasional Way Kambas. Sebenarnya pergi ke PKG adalah keinginan besar saya sejak tahun lalu, tapi baru kesampaian setahun kemudian. PKG adalah tempat wisata terkenal di Lampung dimana kita bisa melihat gajah jinak berada di habitat alaminya. Saya begitu kagum melihat banyak gajah jantan dewasa yang tinggal di PKG, dan mereka mempunyai gading yang sangat besar! Tapi kekaguman saya berganti sedih ketika teringat begitu banyak gajah yang mati diburu hanya karena gadingnya.  

Bulan lalu media ramai memberitakan darurat perburuan gajah di Lampung. Sang ikon Lampung ini terus diburu dengan laju yang mengkhawatirkan. Di Way Kambas sendiri, tujuh gajah mati dalam tujuh bulan terakhir, semua untuk diambil gadingnya. Praktik ini sebenarnya sudah lama terjadi, tapi yang menggelitik saya adalah kenapa baru sekarang menjadi perhatian?

Sebenarnya ada satu kasus kematian gajah di Lampung yang sempat menghebohkan dunia. Pernah mendengar tentang gajah Yongki? Yongki adalah gajah patroli di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang dilatih untuk menghalau gajah liar masuk ke dalam kebun warga. Selain sebagai penengah konflik, Yongki adalah ikon TNBBS, gajah dengan gading raksasa ini menarik pengunjung datang, bahkan Yongki sempat menjadi bintang dalam video klip penyanyi Tulus yang berjudul “Gajah”. 

Namun sekarang Yongki sudah tidak ada lagi. Dia mati diracun oleh pemburu semata untuk diambil gadingnya. 

Saya pertama kali mendengar kabar kematian Yongki dari kantor saya bekerja. Yongki ditemukan mati Jumat pagi, 18 September 2015, hanya berselang tujuh jam setelah petugas kamp terakhir memeriksanya di malam sebelumnya. Ironisnya, lokasi kematian Yongki hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari Pos Resort Pemerihan, TNBBS yang sejatinya merupakan garda depan perlindungan kawasan dan hidupan liar di dalamnya.  

Dampak kematian Yongki terhadap konservasi gajah di Indonesia

Kematian Yongki telah menimbulkan gelombang amarah dan simpati dari masyarakat Indonesia dan internasional. Kasus Yongki ini terbilang sangat unik karena satu ekor gajah mampu menimbulkan apa yang saya sebut dengan fenomena “lonjakan kepedulian” yang luar biasa. Kematian Yongki menjadi tren di media sosial. Berbagai pihak mengecam kematian Yongki dan menuntut pelakunya agar ditangkap. Para selebriti Indonesia membuat tagar #RIPYongki dan meminta pengusutan kasus Yongki segera dilakukan. Menteri KLH Siti Nurbaya mengaku shock mendengar kabar kematian Yongki. Bahkan berita kematian Yongki segera tersebar di media internasional, ABC dan Washington Post turut memberitakan kabar duka Yongki. Dunia menangisi kepergian Yongki. 

Pengusutan kasus Yongki juga tidak main-main. Taman Nasional bekerjasama dengan LSM mitra dan kepolisian bekerjasama untuk menyelidiki penyebab kematian Yongki dan jejak sang pelaku. Saya sendiri melihat komitmen luar biasa untuk segera menyelesaikan kasus Yongki. Pos Resort Pemerihan tidak pernah sepi dari polisi hingga sebulan setelah kejadian. Investigasi di desa sekitar lokasi kejadian terus dilakukan. Bahkan sampai dilakukan analisis forensik dengan mengambil sampel darah dari barang bukti. 

Faktanya, kasus perburuan gajah sebenarnya merupakan fenomena yang sudah lama terjadi, dan terus terjadi seperti di Way Kambas, BBS, dan berbagai tempat lain di Sumatera. Sayang, banyaknya gajah yang mati tidak semuanya mendapatkan cukup perhatian dari publik, sehingga banyak yang tidak sadar bahwa populasi gajah sumatera saat ini sebenarnya sedang sangat terancam. Perhatian atas kasus Yongki ini setidaknya membawa sisi positif, dimana perhatian kita kembali tertuju kepada tantangan utama konservasi gajah, yaitu perburuan.

Apa yang membuat kasus Yongki berbeda dari kasus perburuan gajah lainnya?

Ernest Small (2015), peneliti biodiversitas dari Kanada dalam artikel ThinkProgress menyatakan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan suatu hewan begitu populer yakni: kisah yang menarik, jenis hewan yang terlibat, dan atribut kemanusiaan pada hewan. Gajah Yongki memiliki ketiga faktor tersebut. Kita mengenal Yongki sebagai gajah yang penuh jasa. Yongki adalah gajah patroli yang bertahun-tahun menjaga kebun warga agar tidak dimasuki oleh gajah liar, perannya sangat besar dalam mengurangi konflik manusia-gajah liar. Lalu kita dikejutkan dengan kisah pilu sang gajah heroik yang dibantai untuk diambil gadingnya, bahkan di tempat ia biasa ditambat tidak jauh dari pos jaga. Kemudian Yongki terkenal karena ia adalah gajah, hewan yang disenangi oleh manusia. Hewan yang berukuran besar dan berkarisma seperti Yongki akan memperoleh rasa hormat dan kagum dari masyarakat, beda cerita apabila Yongki adalah hewan “tidak seksi” seperti ular atau katak misalnya. Selain itu, kita juga memberikan atribut kemanusiaan berupa nama kepada Yongki yang berdasarkan teori antropomorfisme semakin menambah kedekatan kita dengan hewan-hewan tersebut. Bayangkan jika Yongki hanyalah gajah tak bernama, mungkin nasibnya tidak jauh berbeda dengan gajah-gajah tanpa nama lainnya yang mati diburu setiap harinya. 

Ketiga faktor tersebut yang kemudian digunakan oleh media massa untuk pemberitaan ke masyarakat. Ketika masyarakat menaruh perhatian yang besar, media massa akan terus memberitakan kasus tersebut beserta perkembangannya. Kita juga tidak boleh meremehkan kekuatan media sosial dalam menyebarkan suatu berita, hal yang tidak mengherankan mengingat di Indonesia saja sudah terdapat 75 juta pengguna media sosial pada saat ini. Saya yakin banyak yang mendengar kisah Yongki pertama kali melalui media sosial Facebook. Kombinasi pemberitaan oleh media massa dan penyebaran berita melalui media sosial inilah yang kemudian menimbulkan fenomena lonjakan kepedulian terhadap nasib gajah di Indonesia.

Pembelajaran untuk konservasi di Indonesia

Belajar dari kisah Yongki, kita sebenarnya dapat memanfaatkan momentum lonjakan kepedulian untuk meningkatkan kesadaran akan tingginya tingkat perburuan dan menggalang dukungan untuk konservasi gajah sumatera. Kita juga harus paham bahwa momentum seperti ini tidak selalu ada dan tidak dapat diprediksi kemunculannya. Yang bisa kita lakukan adalah terus memantau dan membaca peluang. Ketika momentum lonjakan kepedulian muncul, tinggal bagaimana kita mengemasnya sehingga menarik bagi masyarakat luas. 

Pemikiran antropomorfik sebenarnya adalah kekeliruan berpikir manusia. Kita terkadang sibuk mengurusi satu hewan tanpa memikirkan hewan lainnya yang juga bernasib sama. Kita begitu peduli dengan Yongki karena kita merasa dekat dengannya sementara ratusan gajah tanpa nama lainnya juga mengalami nasib serupa, mati dibantai untuk diambil gadingnya. Oleh karena itu, ketika kasus Yongki menjadi sorotan, seharusnya kita juga memperjuangkan nasib serupa ratusan gajah lainnya. Tidak mungkin kan kita menamai semua gajah hanya supaya mendapatkan perhatian seperti si Yongki?

Sebagai manusia dengan limitasi kognitif, kita memang cenderung lebih peduli dengan hewan ketika ia ketika punya kisah yang bagus, merupakan hewan yang menarik, serta melibatkan atribut kemanusiaan. Limitasi ini perlu kita sadari dan sebagai praktisi konservasi, saya menyadari betul pentingnya memasukkan tiga faktor di atas dalam strategi perlindungan satwa liar di Indonesia. Ini menjadi tugas kita bersama, bagaimana kita membuat hewan yang sebelumnya tidak dipedulikan menjadi dipedulikan, dan bagaimana kepedulian tersebut bisa melindungi mereka ke depannya.


You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment