Wednesday, February 17, 2016

Ayo Kenali Lima Pahlawan Konservasi Indonesia!


Ditulis Oleh: Ardiantiono dan Sheherazade


Sebagai Negara megabiodiversitas dunia, Indonesia patut berbangga atas kekayaan hayatinya yang sungguh luar biasa. Akan tetapi tanggung jawab untuk melindungi alam kita juga sangatlah besar, terutama ketika ancaman seperti kerusakan hutan dan perburuan yang terus meningkat. Di sisi lain kita patut bersyukur, karena masih banyak sekali orang-orang yang terus berjuang untuk konservasi alam Indonesia. Pada kesempatan kali ini, TAMBORA akan mengangkat lima tokoh yang merupakan pemimpin dalam pergerakan konservasi di Indonesia. Beliau-beliau adalah peneliti, akademisi, dan pimpinan lembaga konservasi yang sudah diakui dunia atas kontribusi yang luar biasa dalam melindungi alam Indonesia. Ayo kenali lima pahlawan konservasi Indonesia versi TAMBORA!


Jatna Supriatna

Sumber: TFCA Sumatera

Dikenal sebagai legenda konservasi Indonesia, Jatna Supriatna mendedikasikan hidupnya untuk konservasi hidupan liar di Indonesia selama lebih dari empat dekade. Sejak tahun 1994 hingga 2010, beliau dipercaya memimpin Conservation International (CI) Indonesia Program, salah satu lembaga konservasi terbesar di dunia. Setelah mengabdi di CI, beliau mengemban amanah baru sebagai direktur Pusat Studi Perubahan Iklim Universitas Indonesia (RCCC-UI) hingga sekarang. Saat ini beliau sedang aktif di bidang perubahan iklim terutama perencanaan dan implementasi REDD+ di Indonesia.

Jatna Supriatna telah menulis 10 buku tentang konservasi dan alam Indonesia serta mempublikasikan lebih dari 100 artikel ilmiah di jurnal internasional. Dua buku beliau, "Biologi Konservasi" (2007) dan "Menyelamatkan Alam Indonesia" (2009) merupakan daftar best seller buku lingkungan di Indonesia. Atas kontribusi beliau di bidang konservasi dan lingkungan, Jatna Supriatna telah menerima berbagai penghargaan prestigius seperti "The Officer of the Most Excellence Order of Golden Ark Award" di Belanda (1999), Habibie Award untuk pencapaian luar biasa di bidang sains (2008), dan Achmad Bakrie Award untuk kontribusi di bidang sains Indonesia. Jurnalis kenamaan pemenang Pullitzer Award Thomas L. Friedman menggambarkan Jatna Supriatna sebagai "The Noah of Modern History" dan Conservation International menyebutnya sebagai "Conservation Warrior" atau pahlawan konservasi Indonesia.



Ani Mardiastuti

Gambar diambil dari Facebook: Ani Mardiastuti

Sebagai salah satu ahli burung paling berpengaruh di Indonesia, kecintaan Ani Mardiastuti terhadap burung sudah dimulai sejak muda. Penekunan terhadap burung terus berlanjut hingga beliau meraih gelar Doktor di Michigan State University dengan spesialisasi biologi dan ekologi burung liar. Setelah menyelesaikan studi, Ani Mardiastuti mengabdi sebagai dosen di almamaternya, Institut Pertanian Bogor (IPB) hingga saat ini. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB pada tahun 1996 hingga 2004 dan saat ini beliau merupakan guru besar ilmu ekologi satwa liar di Fakultas Kehutanan IPB. Selain di kampus, Ani Mardiastuti juga aktif terlibat dalam berbagai lembaga konservasi. Beliau pernah mengemban tanggung jawab sebagai koordinator nasional untuk TRAFFIC, lembaga yang fokus pada isu perdagangan satwa liar, dan staf ahli untuk Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI).

Kepedulian terhadap nasib burung di Indonesia mendorong Ani Mardiastuti bersama rekan-rekan penggiat burung mendirikan Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia atau lebih dikenal sebagai Burung Indonesia. Sejak tahun 2003, Ani Mardiastuti dipercaya mejabat sebagai Ketua Dewan Perhimpunan Burung Indonesia dan hingga saat ini terus membina Burung Indonesia menjadi lembaga konservasi terdepan untuk konservasi burung di Indonesia.    



Djoko Tjahjono Iskandar

Sumber: SITH ITB

Djoko Iskandar merupakan herpetolog Indonesia dan guru besar di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung. Doktor herpetologi lulusan Université des Sciences et Techniques du Languedoc, Perancis ini telah mendeskripsikan banyak jenis reptil dan amfibi dari berbagai daerah di Indonesia misalnya Limnonectes larvaepartus yang menghebohkan dunia sains. Katak ini adalah  satu-satunya katak yang melahirkan berudu di dunia. Tercatat lebih dari 63 publikasi tentang herpetofauna yang ditulis  beliau yang tercatat di situs ResearchGate. Tidak heran kalau banyak yang menyebut beliau sebagai Bapak Herpetologi Indonesia.

Sebagai penghargaan untuk kontribusi luar biasa di bidang taksonomi dan konservasi herpetofauna Indonesia, Djoko Iskandar dianugerahi Habibie Award di bidang Basic Sciences pada tahun 2015. Penghargaan lainnya mulai dari Government Silver Medal 20 year (2009) dari pemerintah Indonesia, Ganesa Cendekia Widya Adi Utama (2011), hingga Kennedy Award Best published paper of the year 2001, telah diraihnya. Djoko Iskandar saat ini menjabat sebagai dewan Pembina di Aliansi Konservasi Tompotika, yayasan konservasi di Kabupaten Banggai, untuk konservasi satwa endemik Sulawesi.



Noviar Andayani

Gambar diambil dari Twitter: Noviar Andayani

Noviar Andayani saat ini menjabat sebagai Country Director Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP), lembaga konservasi internasional berbasis riset yang bergerak melindungi satwa terancam dan ekosistemnya. Sebagai satu dari sedikit wanita yang dipercaya memimpin lembaga internasional, Noviar Andayani juga mengemban amanah sebagai ketua Perhimpunan Ahli dan Pemerhati Primata Indonesia dan direktur Yayasan Owa Jawa (YOJ). Mantan ketua program studi pasca-sarjana Biologi Universitas Indonesia (UI) ini juga mengambil peran besar dalam perencanaan strategi konservasi orangutan dan satwa lainnya di Indonesia. Saat ini beliau sedang aktif menekuni bidang genetika konservasi terutama untuk satwa terancam seperti owa jawa, orangutan, dan gajah.

Di luar kesibukan beliau sebagai direktur WCS-IP, mengajar adalah pekerjaan utama bagi Noviar Andayani. Selama kurang lebih 20 tahun menjadi dosen di Departemen Biologi Universitas Indonesia, beliau telah membimbing 27 mahasiswa S1 dan 10 mahasiswa S2 yang kemudian menjadi peneliti dan praktisi konservasi. Untuk menunjang kegiatan penelitian di kampus, Noviar Andayani mendirikan laboratorium di UI yang memfokuskan penelitian pada konservasi satwa—dalam hal ini owa jawa—melalui genetika. Totalitas seorang Noviar Andayani di dalam dunia pendidikan dikarenakan kepercayaan beliau bahwa generasi muda adalah garda terdepan yang akan mengemban tanggung jawab untuk melindungi alam Indonesia.



Mochamad Indrawan

Difoto oleh: Sheherazade

Mochamad Indrawan atau akrab dipanggil Didi adalah salah satu peneliti dan ahli konservasi terkemuka Indonesia. Dengan segudang pengalaman dan penelitiannya di bidang ornitologi, beliau mendeskripsikan satu jenis burung kacamata di Togean, Sulawesi Tengah, yakni Zosterops somadikartai. Penemuan kembali burung Gagak Banggai (Corvus unicolor) oleh tim yang dipimpinnya, dinobatkan sebagai salah satu penemuan paling signifikan di abad ini.

Selain tergabung dalam Indonesian Ornithologists’ Union, Didi sekarang menjabat sebagai anggota kelompok ahli International Union for Conservation of Nature (IUCN) untuk World Commission on Protected Area, IUCN-Bird Red Data Authority, dan pemimpin Indonesia untuk Climate and Development Knowledge Network. Beliau juga menulis buku Biologi Konservasi bersama Jatna Supriatna yang merupakan buku referensi untuk para mahasiswa dan praktisi konservasi di Indonesia. Di tahun 2015, Didi terpilih untuk menghadiri acara Inspiring Leadership for a Sustainable World, pertemuan prestigious untuk para pemimpin yang berkontribusi luar biasa dalam bidang pembangunan berkelanjutan.




Kontribusi luar biasa dari lima pahlawan konservasi ini tentunya harus diteruskan oleh kita semua, para generasi muda konservasi Indonesia. Ayo para agen Tambora! Mari berkarya untuk konservasi alam Indonesia dan jadilah pahlawan konservasi Indonesia berikutnya!

This article is available in English here

You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment