Friday, January 29, 2016

Membuat Jalan yang Sebelumnya Tidak Bisa Kita Temukan

Ditulis oleh Puspita Insan Kamil
Editor Peter McDonough (English edition)

Jembatan untuk Satwa Liar di Montana

Saya pertama kali tertarik di dunia konservasi satwa liar saat saya melihat beberapa rusa di kampus saya, di dalam sebuah kandang yang terletak di dekat stasiun kereta universitas. Mereka adalah ikon Universitas Indonesia, namun saya tidak melihat kebahagiaan di dalam kandang seluas 1 hektar tanpa tempat jumlah air yang memadai atau semak-semak yang dibutuhkan rusa. Saya saat itu adalah mahasiswa Psikologi, dan tidak mengerti mengenai kesejahteraan hewan sama sekali, dan akhirnya saya memutuskan untuk mencari siapapun di Google yang pernah menulis mengenai Rusa timorensis tersebut. Kemudian saya bertemu dengan Diny, alumni ilmu Biologi yang lebih tua dua tahun dari saya, berdiskusi di perpustakaan untuk memulai kampanye untuk rusa-rusa tersebut. Saya kadang tidak mengerti bagaimana semesta bekerja, tapi secara kebetulan Diny adalah salah satu anggota tim inti jaringan Tambora ini.

Saya mengingat pertemuan pertama dengan Diny saat saya pertama kali diundang bergabung dengan Tambora. Sedikit lucu karena sebelumnya saat itu saya hanya memiliki satu teman dari bidang ilmu Biologi dari Institut Teknologi Bandung. Ia menolak untuk membantu saya saat itu, justru dia menyarankan saya untuk mencari seseorang dari jurusan Biologi di kampus saya agar kampanye rusa tersebut lebih lokal, dari UI untuk UI. Kini, saya sudah memiliki banyak kenalan dari Biologi UI. Di era serba cepat, digital, dan terkoneksi ini, kita tahu betapa mudah manusia berkomunikasi satu sama lain. Berjaringan menjadi benda mewah yang terjangkau semudah mencari di Google dengan satu kata kunci. Saya bisa mengatakan bahwa 60% dari waktu saya kini dihabiskan untuk berdiskusi dengan banyak konservasionis di seluruh dunia, dengan bantuan internet. Tidak ada alasan lagi untuk berjaringan, dan saya yakin atas semangat itulah Tambora dibentuk. Tapi pertanyaannya adalah, kenapa kita harus membangun jaringan yang kuat?

Pada Agustus hingga September 2015 lalu, saya mengikuti sebuah program bernama Young Southeast Asian Leaders Initiative selama 5 minggu di Amerika Serikat. Program tersebut dibiayai oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Selama program intensif 5 minggu itulah, saya mendapat jaringan yang lebih besar ke para konservasionis, pelestari lingkungan, pendidik, masyarakat adat, bahkan praktisi pertanian yang menginspirasi saya untuk melakukan hal yang lebih besar di Indonesia. Saya mendapatkan diskusi-diskusi intensif, brainstorming, dan merancang ide. Saya tahu ide-ide dan hasil yang saya dapatkan tidak akan berfungsi dengan optimal jika hanya berhenti di saya, jadi saya berniat membagikannya dalam sebuah serial blog di situs Tambora ini. Poin pentingnya adalah saya ingin membagikan betapa dinginnya kita sekarang karena kita hanya memperhatikan layar ponsel kita, sementara sebenarnya kita dapat menggunakannya untuk jaringan yang lebih baik dan diskusi antar disiplin.

Pekerjaan saya adalah seorang strategis, dan jika seseorang bertanya pada saya apa hal terpenting dalam membuat strategi yang baik, maka saya tanpa ragu menjawab "diskusi lintas disiplin", karena saya percaya bahwa tidak ada satu masalah yang dapat diselesaikan dengan baik hanya dengan satu perspektif. Saat saya kuliah, saya kadang melihat mahasiswa di kampus saya tidak mau keluar dari fakultasnya dan berdiskusi terbuka dari fakultas lain. Kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri, dan pada akhirnya kita tidak bisa memberikan penghargaan pada ilmu orang lain karena kita tidak mengerti secara mendalam apa yang mereka pelajari. Saya akan memberikan satu contoh integrasi lintas disiplin dari studi kasus di Montana: US Highway 93 North Wildlife Crossing Structures di Montana.

Saat saya sedang dalam perjalanan menuju Taman Nasional Glacier, saya duduk di bangku depan mobil dan melintasi sebuah jembatan yang melintang di atas jalan tol. Saya bertanya pada teman saya, penduduk Montana, jembatan apa itu - karena jelas tidak ada pemukiman di samping kanan kiri, dan dia mengatakan itu adalah jembatan penyeberangan satwa liar. Terdapat 3 struktur penyeberangan untuk satwa liar: jembatan, terowongan, dan jalur berpagar. Permasalahannya jelas, kita harus bisa memastikan bahwa satwa di alam liar harus bisa terkoneksi, dan bergerak leluasa melintasi habitatnya untuk mencari makan dan reproduksi. Jalan tol yang dibangun melintasi hutan atau Taman Nasional akan mengganggu pergerakan satwa liar dan juga tidak aman. Jika ada masalah, biaya yang harus dikeluarkan akan lebih besar dibanding membuat sebuah struktur yang menghubungkan antar habitat. Data mereka menunjukkan ada 2-4 binatang besar yang ditabrak oleh kendaraan dan setelah struktur penyeberangan dibangun, US Highway 93 di The Flathead Indian Reservation dapat menyelamatkan sekitar 53.600 binatang yang terdeteksi melintasi penyeberangan pada tahun 2010-2012. Saya membaca data tersebut dari sebuah brosur dari www.peopleswaywildlifecrossings.org dan saya terkagum-kagum. Mereka juga menjelaskan dalam hanya selembar kertas bagaimana mereka mengukur untuk memastikan bahwa struktur penyeberangan itu bekerja dengan baik, termasuk observasi, kamera detektor-pergerakan, pengamatan jejak, dan analisis DNA. Mereka juga melakukan analisis biaya untuk memastikan struktur penyeberangan bekerja baik dan menguntungkan satwa liar.

Jika saya berpikir lagi mengenai struktur tersebut, yang terlintas di kepala saya adalah pasti ada proses panjang di belakang itu untuk membangunnya. Jalan tol membuat orang bertransportasi lebih mudah ke Taman Nasional Glacier, yang merupakan salah satu bagian vital turisme Montana, dan melintasi The Flathead Indian Reservation. Flathead adalah salah satu komunitas Suku Asli Amerika di Montana. Dan juga, mereka pasti melibatkan departemen pekerjaan umum dan pendanaan dari pemerintah. Kesimpulannya, proses tersebut melibatkan beberapa pihak. Saya harus mengakui jika kita membicarakan orang-orang atau pihak dari lintas disiplin, kita membutuhkan usaha lebih untuk menyesuaikan, beradaptasi, dan menerima nilai-nilai satu sama lain untuk mencapai derajat pemahaman yang sama. Pembicaraan dan  diskusi panjang yang bisa menyebabkan frustrasi akan tidak terhindarkan. Tapi saya sangat percaya, bahwa saat kita mau berinvestasi pada proses panjang tersebut, solusi yang dihasilkan akan sangat berharga.

Kalau kita merefleksikan pada kasus Indonesia, saya mengingat sebuah artikel dari teman saya - juga anggota tim Tambora, pernah menulis mengenai jalan nasional yang akan dibangun melintasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (http://www.mongabay.co.id/2015/05/25/jalan-nasional-yang-memenggal-taman-nasional/). Taman Nasional tersebut adalah habitat penting untuk gajah, harimau, dan badak. Belajar dari Montana, saya percaya bahwa penyeberangan satwa liar bisa menjadi satu solusi untuk memastikan jalan tersebut tetap bisa menghubungkan area terpencil untuk meningkatkan perekonomian mereka, tapi juga memastikan kesejahteraan satwa liar Sumatera. Bagaimanapun, solusi yang saya ajukan mungkin salah, dan mungkin ada solusi lain yang lebih baik untuk didiskusikan mengenai masalah ini. Kita juga tidak pernah tahu apakah struktur penyebrangan satwa liar di Montana adalah solusi terbaik, hanya saja solusi itu telah melalui proses panjang dan diskusi, dimana semua orang setuju dengan solusi tersebut.

Seperti jalan yang saya temukan saat menyelesaikan masalah rusa, saya percaya bahwa masalahan ini dapat diselesaikan dengan mulai mengenal orang lain dari perspektif dan ekspertis yang berbeda dengan kita. Menyelesaikan masalah ini hanyalah sebuah jalan yang belum kita temukan, dan membangun jaringan yang kuat melalui Tambora bisa saja menjadi langkah awal yang krusial.

--

This article is available in English here

You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment