Sunday, January 31, 2016

Konservaksi: Sains Warga

Ditulis Oleh: Sabhrina Gita Aninta



Orang-orang yang aktif menggunakan media sosial semisal Facebook, Twitter, Path, Instagram, dan lain-lain pasti tak asing dengan istilah jurnalisme warga atau citizen journalism. Memasuki era informasi, siapa pun bisa berbagi tentang apa pun nyaris tanpa batas. Tren ini berkembang karena kabar yang berasal dari narasumber langsung lebih diminati pembaca. Menyusul jurnalisme warga, penulis merasakan perlunya memopulerkan istilah sains warga atau citizen science.

Pertama kali penulis mendengar "citizen science", frase ini keluar dari Nils Güttler, seorang peneliti dari universitas ETH Zürich (Swiss) yang berusaha menjelaskan tentang "heimatforschung" atau "penelitian di kampung halaman" (heimat=rumah, tempat asal; forschung=penelitian, Jerman, red.). Dia bukan seorang ahli biologi, melainkan seorang ahli sejarah. Saat itu, penulis sedang menghadiri seminar terkait disertasinya tentang awal mula peta menjadi alat bagi para ahli botani untuk mempelajari distribusi tumbuhan di Bumi.

Sebelum peta menjadi aset besar para peneliti lapangan, peta hanya memberi tahu batas administratif suatu wilayah. Seiring berjalannya waktu, peta yang informatif makin dicari dan menggambar peta menjadi sebentuk bisnis di Eropa pada sekitar tahun 1800an. Para ahli botani digaji untuk menggambar peta yang memuat distribusi spesies tumbuhan. Namun, semakin besar cakupan wilayah, semakin sulit mendapatkan data. Ketika itulah Hermann Hoffmann, seorang ahli botani Jerman, memanggil penduduk setempat untuk ikut serta berkontribusi dalam memberikan data ke dalam peta yang sedang dibuat oleh salah satu penerbit Jerman. Dia membuat panduan untuk para pengamat lokal agar mereka dapat memberikan data yang terstandarisasi untuk peta yang sedang dia buat. Mungkin inilah satu dari banyak awal mula "heimatforschung" populer di Jerman.

Setelah itu, Oscar Drude menyadari bahwa ada hubungan antara bentang alam dari area yang memiliki komposisi vegetasi yang sama. Menyadari hal ini, dia pun mencoba membuat peta dengan resolusi informasi yang lebih tinggi, dan lahirlah beberapa bukunya tentang distribusi tumbuhan di dunia. Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah Die Vegetation der Erde (1896-1928) atau "Vegetasi Bumi". Dia merupakan salah satu penggagas panduan penelitian lapangan pertama tentang ekologi tumbuhan, termasuk di dalamnya metode vegetation grid yang umum dipakai untuk inventarisasi spesies tumbuhan oleh para konservasionis saat ini. Dia mempublikasikan metodenya agar semua orang di seluruh dunia dapat berkontribusi ke dalam peta vegetasi yang terstandarisasi tersebut.

Kisah tentang peta ini bukan praktik sains warga pertama yang ada di dunia. Salah satu proyek tertua yang tercatat di Wikipedia berasal dari tahun 1890 di Amerika Serikat dan berkutat di bidang klimatologi. Sisanya bervariasi mulai dari pengamatan tonggeret di halaman belakang rumah sampai transkripsi buku harian para saksi Perang Dunia.

Salah satu portal yang bisa ditilik untuk melihat sains warga yang sedang berlangsung di dunia adalah Zooniverse. Dalam portal ini, semua bisa jadi peneliti, penyumbang data, penulis, apa pun terkait penelitian yang sedang tersedia! Pemilik proyek memuat deskripsi proyeknya agar relawan yang mau ikut serta tahu apa saja yang harus dilakukan. Zooniverse juga sempat menerima proposal pengajuan dana untuk penelitian yang berbasis komunitas. Bukan tidak mungkin mereka bisa dihubungi untuk kolaborasi. Ada pula portal Citizen Science Center bagi kamu yang ingin selalu menerima kabar terbaru tentang proyek sains warga yang sedang berlangsung.

Bagaimana dengan Indonesia?

Praktik sains warga di Indonesia sesungguhnya telah banyak walau tidak disebut demikian. Misalnya, tiap tahun ada kegiatan pengamatan migrasi burung pemangsa oleh Raptor Indonesia yang bisa diikuti semua orang. Dalam kegiatan ini, kita bisa belajar melakukan pengamatan burung, mengidentifikasi spesiesnya, menghitung jumlahnya, dan lain-lain. Hasil pengamatan dilaporkan kepada publik dan kita bisa turut serta menjawab berbagai pertanyaan terkait konservasi burung migran di Indonesia. Apakah jumlah spesies yang datang ke Indonesia bertambah? Berapa lama mereka singgah di Indonesia? Apa yang mereka butuhkan untuk berkembang biak? Bagaimana jika mereka tak ada? Kegiatan sejenis yang populer adalah Jambore Capung Indonesia pada 2014 silam. Sayang tidak ada berita kelanjutannya pada tahun-tahun selanjutnya. Namun, kesuksesan acara ini menunjukkan potensi masyarakat Indonesia sebagai kontributor data biodiversitas. Indonesia Dragonfly Society masih aktif sampai saat ini dan terus menggaungkan segala bentuk kegiatan konservasi capung di Indonesia. Departemen-departemen LIPI juga pasti akan dengan senang hati mendukung berbagai kegiatan penelitian yang diinisiasi peneliti Indonesia.

Sains warga di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan konservasi, harusnya cukup mudah karena sebagian besar penduduk Indonesia bergantung langsung kepada hasil alam. Dengan demikian, ada semacam pranata yang terbentuk di dalam komunitas penduduk asli yang bertugas mengawasi ketersediaan hewan atau tumbuhan yang dibutuhkan penduduk sehingga mereka hafal isi hutan. Identifikasi spesies menggunakan bantuan penduduk setempat terbukti meningkatkan kualitas dan kuantitas data. Praktik semacam ini juga tidak hanya membantu penelitian terkait biodiversitas tapi juga turut serta meningkatkan kesadaran warga terhadap lingkungan sekitarnya. Siapa lagi yang lebih tahu tentang hewan dan tumbuhan di hutan selain yang tinggal bersama mereka? Tentu saja parabiologist dan parataxonomist setempat. Para konservasionis yang telah melakukan inventarisasi keragaman hayati di Indonesia pasti sepakat bahwa informasi paling berguna berasal dari penduduk yang tinggal dan sering mengeksplorasi area inventarisasi.

Seperti banyak gagasan baru lainnya, hasil dari penelitian semacam ini tentu dipertanyakan keabsahannya. Sulit mengatur standar data ketika lebih banyak orang terlibat. Manipulasi data juga rawan terjadi ketika pengamat bervariasi. Namun, banyak hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas sains warga alih-alih membatasinya. Misalnya pelatihan yang diselenggarakan panitia Jambore Capung Indonesia ketika acara berlangsung dapat membantu standarisasi data, demikian pula ketika Raptor Indonesia memberikan panduan ketika melakukan pengamatan.

Mungkin kegiatan sains warga masih ada lebih banyak lagi dari yang penulis sebutkan. Namun, mungkin kegiatan tersebut tidak terekspos media atau tidak dibagikan oleh penggagasnya. Mungkin ada pula yang ingin membuat kegiatan sejenis namun kesulitan mendapatkan peminat atau tidak tahu bagaimana harus memulai. Karena itu, penulis mendukung kegiatan Tambora untuk menghimpun konservasionis muda dalam suatu jaringan sehingga lebih banyak orang yang terpapar informasi tentang potensi-potensi di Indonesia, terutama yang terkait dengan konservasi keragaman hayati. Dengan lebih banyak orang dan lebih banyak sudut pandang, praktik konservasi Indonesia akan lebih kaya dan lebih tepat guna.

Tertarik? Atau ingin berbagi tentang ide kegiatan sains warga yang hendak/telah dilakukan? Silakan komentar atau langsung hubungi Tambora, dan agen kami akan membantu dengan senang hati!

Munich, 31 Januari 2016
Sabhrina Gita Aninta,
Database Person Tambora

[Serial "Konservaksi" akan menjabarkan cara-cara mudah bagi segala kalangan untuk turut serta dalam upaya pelestarian keragaman hayati Indonesia dan akan tayang setiap akhir bulan.]

Catatan 
Penulis sempat memiliki ide untuk melakukan hal yang serupa untuk anak-anak: IdenKilat. Kegiatan ini penulis rencanakan mirip dengan kuliah lapangan untuk mahasiswa/i Biologi namun lebih singkat dan sederhana karena diperuntukkan bagi umum. Terinspirasi dari BioBlitz yang sudah lama populer di Amerika, penulis berharap dapat membuat anak-anak usia SD sampai pensiunan paruh baya tertarik mengumpulkan informasi tentang biodiversitas di suatu lokasi selama 24 jam. Silakan menghubungi penulis jika tertarik berdiskusi lebih lanjut. Penulis akan dengan senang hati membantu siapa pun yang ingin melakukan hal serupa di daerah tempat tinggalnya!

Ada perlunya juga penulis memasukkan tulisan lain yang seide untuk memperkaya pembaca, misalnya tulisan di blog ini dan berita keberhasilan sains warga di Palau.

You Might Also Like

0 comments:

Post a Comment