Monday, June 19, 2017

Jangan lupa daftar National Geographic Grant ya!


Hai sobat Tambora! 
Punya ide menarik tapi masih bingung soal dana? atau ingin menginisiasi projek konservasi keren bersama teman2mu? Udah tau kan National Geographic Grant? 

Yap, grant yang fokus di bidang konservasi, edukasi, penelitian, storytelling dan teknologi ini masih membuka pendaftaran untuk termin ketiga dan keempat (Juli dan Oktober). Menariknya, grant ini membuka dua tipe grant berbeda, yaitu early career grant untuk yang masih belajar memimpin sebuah projek, juga standard grant untuk yang sudah lebih perpengalaman. Kamu bisa mengajukan dana dari 10.000-50.000 USD loh! 

Jangan takut buat daftar, karena mengajukan grant adalah salah satu proses belajar kita sebagai konservasionis muda. Segera daftar ya, termin ketiga ditutup 1 Juli 2017. Jangan lupa mampir kesini untuk info lebih detail, atau kalo kamu masih bingung bisa juga hubungi email tambora ya! 

Read More

Pendaftaran abstrak 4th International Wildlife Symposium diperpanjang!


Buat teman-teman yang ingin mendaftarkan abstrak penelitian di acara keren ini, pendaftarannya diperpanjang loh sampai 23 Juni! Segera daftar ya! Untuk informasi lebih lanjut langsung mampir disini
Read More

Buruan daftar, pendaftaran Ekspedisi NKRI 2017 segera ditutup!


"Ekspedisi, tunjukkan baktimu, jiwa korsa semangat di dada, disiplin dan slalu setia, ekspedisi tetap jaya selamanya!" Pekik salah satu anggota Ekspedisi NKRI

Halo sobat Tambora! pernah dengar yel di atas? Ya, itu merupakan salah satu yel yang dimodifikasi dan sering dinyanyikan oleh peserta Ekspedisi NKRI. Tahun ini, tim Ekspedisi akan menjelajahi kawasan Papua bagian selatan. Kesempatan ini sangat baik untuk kamu yang ingin mempelajari flora fauna khas Papua sekaligus bekerja bersama untuk membangun kawasan tersebut melalu program-program sosial. Jangan lupa ya, deadline pendaftaran sudah semakin dekat yaitu 22 Juni 2017 pukul 24.00. Jadi, segera persiapkan berkas pendaftaranmu dan yang paling penting, mental kamu!

Daftarnya disini ya!


Read More

Wednesday, June 14, 2017

Indonesia Rawan "Spesies Kaget"

Spesies, seperti halnya pasar, juga bisa kaget. Tahu 'kan, pasar kaget? Pasar yang tiba-tiba ada di suatu tempat-tempat dan waktu-waktu strategis ketika orang yang punya daya beli paling banyak ada di suatu tempat? Kalau di Bandung, Gasibu yang ada setiap Minggu itu termasuk salah satu contoh pasar kaget, atau pasar yang ada di depan Masjid Salman ITB setiap Jumatan. Pada bulan puasa, umumnya banyak sekali pasar kaget yang ada di banyak daerah di Indonesia. Mungkin dekat rumahmu ada satu.

Seperti halnya pasar kaget, "spesies kaget" adalah spesies yang mendadak melimpah di suatu area. Kesamaan antara kedua hal ini adalah: (1) mereka sama-sama tiba-tiba ada dalam jumlah banyak di suatu area karena peluang mendapatkan sumber daya/keuntungan dari area tersebut, dan (2) mereka tidak benar-benar berasal dari tempat mereka tiba-tiba melimpah. Spesies "kaget" ini lebih dikenal di dunia konservasi sebagai spesies asing invasif atau lebih singkatnya, spesies invasif.
Image result for invasive species
Kehadiran spesies invasif kadang memang membuat kaget.

Pada Hari Biodiversitas Sedunia tanggal 22 Mei silam, Tambora membagikan infografik tentang jumlah spesies yang ada di Indonesia termasuk ancaman-ancaman terhadap mereka. Salah satu dari ancaman itu adalah "invasi spesies asing". Redaksi Tambora sedikit tergelitik membaca salah satu komentar pembaca di media sosial yang bertanya, "Invasi itu maksudnya dari planet lain?"

Lepas dari pembaca tersebut mungkin bercanda atau terpengaruh penggunaan gambar yang menjurus, tidak banyak penduduk Indonesia yang tahu tentang invasi spesies asing di tanahair. Penjelasan yang diberikan KBBI tentang kata "invasi" itu sendiri mengindikasikan serangan yang sengaja oleh suatu kelompok atau proses masuk berbondong-bondong. Ini tentu tidak mudah dicerna karena kita tidak melihat spesies-spesies tersebut masuk dengan berbondong-bondong seperti rombongan keluarga pemburu takjil di pasar kaget. Modus operandi spesies asing selalu bermula dari segelintir individu yang kemudian melonjak jumlahnya setelah waktu tertentu. Terbiasa tumbuh bersama spesies yang semula sedikit ini, tidak akan banyak yang sadar kalau spesies ini tiba-tiba banyak sampai menggusur spesies lain, seperti rasa yang pelan-pelan muncul kepada gebetan.

Sedikit tentang Spesies Invasif

Tidak semua spesies asing yang masuk ke dalam suatu wilayah dapat dikatakan sebagai spesies invasif. Spesies asing dapat didefinisikan sebagai spesies yang belum pernah ada dalam wilayah yang diacu. Spesies invasif adalah spesies asing yang sangat berhasil dalam menemukan strategi mencocokkan diri dengan wilayah baru sehingga jumlahnya meningkat sangat pesat, mengambil alih sumber daya sangat banyak sampai menghambat pertumbuhan populasi spesies lain yang merupakan spesies asli di wilayah tersebut. Secara ilmiah, ada beberapa tahapan yang diperlukan suatu spesies asing agar bisa menjadi invasif, mulai dari masuknya bibit spesies asing sampai dengan ketika spesies asing menjadi dominan. Berbagai istilah diberikan kepada spesies asing yang sedang berada dalam tahapan invasi yang berbeda untuk mengacu kepada proses yang sedang dilalui spesies.

Invasi spesies asing telah menjadi masalah di Indonesia sejak lama. Spesies invasif telah menjadi perhatian Indonesia sejak Konvensi Keanekaragaman Hayati yang dikaji dalam KTT di Rio di Janeiro tahun 1992 diratifikasi dalam UU nomor 5 tahun 1994. Namun, mengelola spesies invasif sangat sulit. Dalam Hari Biodiversitas Dunia tahun 2009, semakin banyak spesies invasif yang menjadi masalah di Indonesia, dan sampai beberapa tahun belakangan terus menjadi agenda pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam. Beberapa spesies invasif yang terkenal di Indonesia adalah eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang tengah mengeringkan Rawa Pening hingga kini, hama keong emas (Pomaceae canaliculata) yang menjadi masalah sehari-hari para petani, dan pohon akasia (Acacia nilotica) yang sedang memadati savana Taman Nasional Baluran.

Spesies invasif begitu merepotkan karena dapat menggunakan sumber daya di habitatnya lebih efisien dari spesies lain. Umumnya hal ini terjadi karena spesies invasif berasal dari luar daerah tersebut sehingga tidak memiliki musuh alami yang dapat menekan pertumbuhan populasinya. Kelakuan eceng gondok dalam mengonsumsi air dan oksigen dengan sangat efisien sehingga menghasilkan eceng gondok baru dengan kapasitas konsumsi yang sama cukup fatal bagi ikan-ikan di Rawa Pening. Kondisi ini dapat berujung ke matinya banyak spesies ikan di rawa tersebut dan penurunan jumlah spesies. Jika keragaman spesies menurun, bukan tidak mungkin fungsi ekosistem juga terganggu. Masalah yang sama dihadapi pula dengan keong emas, akasia, dan kini ikan kepala buaya (Lepisus peus) di Sungai Cikapundung dan berbagai penjuru perairan air tawar Indonesia, yang memangsa ikan-ikan air tawar setempat dan tambahan spesies asing di Baluran yang mengancam pertumbuhan spesies tumbuhan endemik.

foto: Waspada
Ikan kepala buaya atau ikan aligator yang ditemukan di Aceh pada pertengahan Mei 2016 silam, Sumber: Waspada.co.id (14/5/2016)

Indonesia sebagai "Titik Panas" Spesies Invasif

Dalam sebuah studi yang keluar baru-baru ini di jurnal ilmiah Nature, wilayah kepulauan diketahui rawan kedatangan spesies invasif lebih banyak dari wilayah terestrial lain, terutama di area pantai. Hal ini kemungkinan karena kebanyakan negara yang bertempat di kepulauan tropis memiliki volume impor barang yang tinggi sehingga rentan kedatangan spesies asing. Wayne Dawson dari Durham University, UK, dan para koleganya menganalisis 609 wilayah dunia untuk mengetahui distribusi spesies invasif dari kelompok mamalia, burung, semut, laba-laba, ikan, tumbuhan, amfibi, dan reptil di seluruh dunia. Sebagai hasil, Indonesia sebagai bagian dari Australasia bersama dengan Florida didapati memiliki ragam spesies invasif tertinggi untuk semua kelompok organisme yang dipelajari. Dengan kata lain, Indonesia merupakan salah satu hotspot atau "titik panas" keanekaragaman spesies imvasif. Kita juga perli melihat  Indonesia sebagai negara kepulauan yang sempat jadi pusat perdagangan dunia sejak abad ke-14 sehingga berpotensi menjadi tempat singgah spesies asing yang kemudian dapat menjadi invasif.

Perlu diketahui juga bahwa masalah spesies invasif di Indonesia tidak hanya karena spesies dari luar daerah administratif Indonesia. Persebaran tak semestinya spesies di dalam wilayah Indonesia sendiri juga dapat menjadi masalah walau tidak kasusnya tidak sesering spesies invasif dari luar Indonesia. Sebagai contoh, Papua memiliki masalah dengan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang datang dari Indonesia bagian barat. Teman-teman yang berdomisili di Jawa, Sumatera, dan Bali tempat monyet-monyet ini cukup melimpah tentu tahu betapa hebohnya perjuangan mempertahankan harta benda dari monyet-monyet ini ketika kita bertatap muka dengan mereka. Saat ini monyet ekor panjang masih tergolong "langka" di Papua, namun mengingat efisiensi hewan untuk menyesuaikan diri dan berkembang biak, bukan tidak mungkin mereka akan menjadi masalah bagi biota Papua pada masa mendatang.

Monyet Jantan Macaca Fascicularis yang merupakan jenis hewan langka yang muncul di jalan alternatif Entrop-Jaya Asri, Jayapura / Foto : Istimewa
Monyet ekor panjang muncul di jalan alternatif Entrop-Jaya Asri, Jayapura menggegerkan warga setempat karena kehadirannya tidak lazim di Bumi Papua. Sumber: Istimewa (27/12/2016)

Apa yang bisa kita lakukan? Jangan kaget.

Dalam konvensi yang telah diratifikasi, pencegahan penyebaran dapat dilakukan dengan karantina dan penanggulangan biasa dilakukan dengan pemusnahan langsung atau introduksi musuh alami. Hal ini telah dilakukan dengan eceng gondok, akasia, dan beberapa spesies invasif perairan. Kita dapat membantu upaya ini dengan tidak sembarangan membawa tumbuhan atau hewan dari luar daerah kita seberapa pun nenek, ibu, bapak, adik, gebetan atau tetangga memohon ketika mereka tahu kita sedang berada di area eksotis. Selain introduksi dari perdagangan, hobi memelihara hewan hias eksotik dari luar juga menjadi salah satu sumber spesies invasif ini. Tidak jarang ada kabar ikan lepas ke selokan atau sungai setempat ketika akuarium dikuras, atau dalam kasus ikan kepala buaya, ada yang membudidayakan hewan tersebut langsung di perairan setempat.

Inilah Penampakan Alat Pembersih Eceng Gondok di Rawapening
Satu unit Dredger pembersih eceng gondok sedang dioperasikan di kawasan Rawapening, Desa Asinan, Bawen, Rabu (11/1/2017). Sumber: Tribun Jateng/Daniel Ari Purnomo.
Pemusnahan pohon-pohon akasia di Taman Nasional Baluran. Sumber: Copenhagen Zoo-Baluran National Park, dimuat di Mongabay dalam tulisan oleh Erik Meijaard (13/02/2017).

Jangan lupa pula ikut mengontrol kelakuan spesies kaget yang baru ada di Bumi selama 300.000 tahun terakhir tapi sudah banyak mengubah susunan spesies ekosistem: manusia. Manusia juga merupakan spesies kaget yang mendadak melimpah di Bumi dan menggusur keberadaan spesies lain dengan pertumbuhan dan perilakunya. Namun, kita bisa membedakan status kita dari spesies kaget lain dengan menjadi spesies kaget yang bertanggung jawab.


Munich, 13 Juni 2017
Sabhrina Gita Aninta

Image result for invasive species
Read More

Saturday, June 10, 2017

Tambora buka Pre Order Trenggiling!

Halo kawula muda kebanggan bangsa!

Saat ini, Tambora lagi buka PO kaos kece nan menawan edisi si Manis javanica (Trenggiling) loh! 

Berikut detil harganya*:
Lengan pendek = 100 ribu 
Lengan panjang = 100 + 5 ribu 
Lengan 3/4 = 100 + 3 ribu
Khusus ukuran XXL = 100 + 5rb
*harga belum termasuk ongkos kirim

Format order:
Nama/Alamat/ukuran/no hp

Buat kalian yg tertarik bisa order via agen kami, Andi (085358884932).

Oyaa! Dana yg terkumpul dari penjualan baju akan didonasikan untuk kemaslahatan dunia konservasi, khususnya Tambora. Jadi tunggu apalagi? Ayooo borong kaosnya segera!!
Read More

Monday, June 5, 2017

NL

ERUPSI Vol 14: Mei 2017


Read More

Sunday, June 4, 2017

Apakah kamu pahlawan konservasi selanjutnya?


Halo sobat Tambora!
Ada workshop keren nih, gratis pula! Workshop mengenai konservasi satwa liar ini akan langsung dibimbing oleh Dr. Cedric Tan, WILDCRU University of Oxford. Selama kurang lebih 2 minggu (31 Juli-12 Agustus 2017), kamu akan belajar mulai dari desain penelitian, belajar statistik, sampai penggunaan alat-alat canggih untuk penelitian ekologi. Menarik kan? Terlebih lagi workshop ini akan dikemas dalam bentuk permainan! Wah makin seru kayaknya.

Segera kirim CV dan personal statement singkat ke cedric.tan@zoo.ox.ac.uk, paling lambat 15 Juni 2017.

Kalo kamu masih bingung dan kurang percaya diri dengan CV dan Personal Statement kamu, bisa email pertanyaan atau draft kamu ke tambora.muda@gmail.com! Sampai ketemu di Malaysia!
Read More