Saturday, May 4, 2019

Data Biodiversitas Indonesia, Bagaimana Nasibnya?





Naskah-naskah skripsi kehati (keanekaragaman hayati, red.) itu hanya menumpuk di perpustakaan kampus saja, bahkan di kampus saya pun begitu. Naskah skripsi dari tahun berapa itu malah diloakin, bahkan sampai dipilah dan dikelompokkan berdasarkan jenis kertas. Sampul dan kertas biasa dipisah karena memiliki harga pasarnya sendiri. Namun bagaimana tentang kebermanfaatan konten dari skripsi itu sendiri?

Di hadapan para peserta yang datang dari berbagai institusi dan para pembicara yang diundang di Warung Kopi Biodiverskripsi, Sabhrina membagikan cerita bagaimana ia sangat tertarik sekaligus prihatin dengan hilangnya data kehati dari skripsi, tesis, dan disertasi mahasiswa dari waktu-waktu lampau yang hanya berakhir sebagai tumpukan di perpustakaan kampus.

Warung Kopi Biodiverskripsi adalah sebuah kegiatan yang dilakukan Tambora Muda Indonesia untuk menyebarluaskan isu-isu terkait informatika biodiversitas Indonesia (Biodiversity Informatics). Data keanekaragaman hayati dalam jumlah besar juga termasuk dalam isu data raksasa yang saat ini ramai dibahas berbagai kalangan karena data semacam ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam penentuan kebijakan pengelolaan sumber daya alam. Jumlah dan jenis spesies dalam suatu lingkup geografis dalam kurun waktu tertentu bermanfaat untuk mengetahui berbagai hal yang penting dalam pembangunan, semisal pemetaan penyakit menular, memahami persebaran spesies invasif yang dapat mengganggu kondisi ekosistem secara umum, dan memahami potensi kehati suatu area mulai dari potensi penemuan spesies baru hingga dampak alih fungsi lahan. Informasi dari penelitian-penelitian tersebut sangat dibutuhkan oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mengoptimalkan konservasi kehati dan pembangunan negara.

Faktanya data kehati yang dimiliki Indonesia belum terintegrasi sepenuhnya. Sementara untuk menentukan prioritas atau langkah kebijakan mana yang harus dikonservasi, kita harus tahu terlebih dahulu spesies apa saja yang sudah terdata dalam suatu area tertentu. Hal yang utama untuk dilakukan adalah melakukan pendataan yang selengkap-lengkapnya, hingga kita bisa tahu manakah area yang belum dan manakah area yang sudah didata.

Anang Setiawan Achmadi bercerita tentang perkembangan pangkalan data kehati nasional

Mengingat minimnya alokasi belanja negara-negara berkembang untuk pengembangan dan pengelolaan kehati, termasuk Indonesia, perolehan data kehati perlu melibatkan sumber-sumber nonkonvensional semisal sains warga (citizen science). Sumber data kehati lain yang kurang optimal dimanfaatkan adalah naskah laporan penelitian mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia yang umum dikategorikan sebagai literatur abu-abu karena ketiadaan pemantauan sejawat (peer review) sebelum publikasi. 

Naskah-naskah laporan penelitian mahasiswa ini merepresentasikan sebagian besar penelitian kehati yang sesungguhnya sudah dilakukan oleh kalangan akademis Indonesia, namun kurang banyak digunakan karena minimnya akses ke naskah-naskah tersebut. Banyak mahasiswa atau peneliti lain yang ingin membaca atau mensitasi skripsi tersebut mengeluh karena harus mendapati naskah itu secara utuh pada perpustakaan asal, ataupun menemukan pada repositori digital perpustakaan universitas bersangkutan yang seringnya hanya dapat diakses pengguna tertentu.

Sementara, data kehati dari institusi pendidikan dan yang dikoleksi oleh individu terlatih semisal mahasiswa termasuk data yang banyak dipercaya untuk digunakan kembali dalam penelitian kehati oleh komunitas internasional. Berdasarkan keadaan ini, Tambora Muda Indonesia berupaya membantu praktik konservasi alam di Indonesia dengan mengumpulkan data kehati dari skripsi/tesis/disertasi mahasiswa-mahasiswi Indonesia dalam wadah yang sistematis dan dapat diakses siapa pun berjudul “Biodiverskripsi”.

Membuat Skripsi Mahasiswa Lebih Berarti

Sheherazade selaku ketua dari Tambora Muda Indonesia membuka acara Warung Kopi Biodiverskripsi di hari pertama

Dengan tujuan untuk meningkatkan aksesibilitas penelitian keanekaragaman hayati lokal di Indonesia, Biodiverskripsi mengumpulkan data pemantauan ekologis dari skripsi mahasiswa dalam platform berkelanjutan untuk membantu penelitan dan kebijakan nasional mengenai konservasi. Platform tersebut akan memuat data kemunculan spesies dari berbagai lokasi di Indonesia dari skripsi mahasiswa, tesis master, dan disertasi doktoral yang dipublikasikan dari tahun 2000-2017 oleh setidaknya tiga universitas di Indonesia yaitu USU (Universitas Sumatra Utara), UNIPA (Universitas Negeri Papua) dan UGM (Universitas Gadjah Mada). Data yang dipublikasikan dalam portal disambungkan dengan repositori universitas yang bersangkutan agar mereka yang ingin mengetahui lebih lanjut konteks data dapat menghubungi universitas terkait.

Data ini akan dibagikan dengan pangkalan data keanekaragaman hayati nasional Indonesia, InaBIF, yang berpusat di Pusat Penelitian Biologi LIPI, agar dapat dikelola secara nasional. InaBIF merupakan salah satu nodus dari GBIF (Global Biodiversity Information and Facility), lembaga yang mengelola data biodiversitas dari seluruh dunia untuk memungkinkan data tersebut dapat diakses secara mudah melalui internet, agar semakin bernilai bagi khasanah keilmuan dan keberlangsungan pelestarian biodiversitas di dunia. Proyek Biodiverskripsi (The Biodiversity Theses Database) didanai oleh BIFA (Biodiversity Fund for Asia) yaitu dana hibah untuk beberapa lembaga yang berupaya melakukan publikasi data biodiversitas melalui portal GBIF, khususnya di Asia.

Inisiasi Biodiverskripsi merupakan bagian dari gerakan mobilisasi data keanekaragaman hayati skala besar agar dapat digunakan kembali dalam penelitian-penelitian skala besar yang umum diperlukan untuk tak hanya mengisi jurang pengetahuan tentang keanekaragaman hayati suatu area namun juga memenuhi kebutuhan informasi pembangunan. Biodiverskripsi sebagai salah satu inisiator mobilisasi data kehati nasional sudah selayaknya membagi hasil kegiatan-kegiatannya ke masyarakat Indonesia dalam format yang menstimulus diskursus tentang informatika biodiversitas, terutama di era informasi.

Diskusi Data dalam Warung Biodiverskripsi

Bertajuk “Warung Kopi Biodiverskripsi”, Tambora mengundang lima pembicara ahli dibidangnya untuk duduk “ngopi” bersama para peserta yang datang dari berbagai institusi, baik dari lembaga, umum maupun mahasiswa. Acara ini masih termasuk ke dalam rangkaian proyek Biodiverskripsi. Lokakarya ini merupakan rangkaian lokakarya Biodiverskripsi yang keempat setelah sebelumnya Tambora mengadakan Lokakarya Teknis Implementasi Biodiverskripsi pada tanggal 2 Juli 2018 di RCCC UI, Depok, Bimbingan Teknis Transkripsi Data Biodiverskripsi pada 15-18 Agustus 2018 di CICO Resort, Bogor, serta Workshop Penggunaan Data Kehati Skala Besar Bersama OWA IPB pada 15 Desember 2018 di Institut Pertanian Bogor.

Ada tiga jenis kegiatan dalam warung kopi ini, yaitu seminar, diskusi warung dan workshop atau lokakarya. Acara berlangsung selama dua hari yaitu pada tanggal 23-24 Maret 2019 bertempat di Cico Resort, Cimahpar, Bogor. Tambora menghadirkan lima pembicara: Anang Setiawan Achmadi (LIPI dan InaBIF), Usman Muchlish (CIFOR), Sabhrina Gita Aninta (Tambora Muda Indonesia), Teguh Triyono (ZSL Indonesia) dan Safran Yusri (Yayasan Terangi).  

Peserta berdiskusi pada sesi warung

Pada acara workshop ini, peserta tidak hanya sekadar duduk dan mendengarkan narasumber. Akan tetapi peserta diajak untuk bertukar pikiran melalui konsep acara yang mengadopsi tema “world café” atau dalam acara ini disebut “Warung Kopi”.  Pada dasarnya para peserta akan membentuk sebuah kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi mengenai suatu subtopik yang berhubungan dengan materi yang disampaikan narasumber sebelumnya. Setiap kelompok (meja) memiliki subtopik yang berbeda. Ketika satu ronde diskusi habis, maka peserta wajib berpindah  ke meja lainnya. Satu ronde dibatasi dalam waktu 15 menit. Diskusi ini memiliki aturan tersendiri. Setiap anggota wajib mematuhi aturan yang berlaku yakni semua orang harus mendapat giliran berbicara dan salah satu anggota kelompok mencatat hasil dialog dalam notula visual.

Salah satu perwakilan peserta mamaparkan hasil diskusi kelompok pada sesi warung

Pembukaan acara dipandu oleh Sheherazade selaku ketua dari Tambora Muda Indonesia di hari pertama. Kemudian dilanjut dengan pemaparan materi oleh Anang Setiawan Achmadi yang bercerita tentang perkembangan pangkalan data kehati nasional sebagai selaku manager nodus InaBIF (Indonesia Biodiversity Information Facility) dan LIPI. Beliau menjelaskan bagaimana pentingnya mengintegrasikan data kehati nasional. Setelah materi selesai dipaparkan, acara dilanjutkan dengan Sesi Warung pertama. Pada sesi pertama ini, peserta diminta mendiskusikan jawaban untuk tiga pertanyaan besar: (1) apakah Indonesia benar-benar butuh pangkalan data nasional? (2) apakah informasi kehati nasional seharusnya bisa diakses oleh siapa saja atau terbatas? dan (3) informasi kehati nasional dapat digunakan untuk apa saja?

Melalui sesi ini, peserta sepakat bahwa suatu pangkalan data yang memuat data keanekaragaman hayati Indonesia yang dapat diakses oleh masyarakat umum dengan mudah dan sistematis. Akses publik diperlukan untuk membantu publik mengawasi pembuatan kebijakan terkait isu keanekaragaman hayati dan memudahkan publik turut berkontribusi kepada data. Data keanekaragaman hayati yang terintegrasi dalam jumlah besar ini dapat digunakan untuk banyak hal, mulai dari studi literatur hingga edukasi tentang keanekaragaman hayati kepada masyarakat umum. Data semacam Ini perlu dibatasi hanya untuk spesies yang makin terancam dan dilindungi peraturan perundangan.

Usman Muchlish menjelaskan materi cara melakukan manajemen pengumpulan data kehati di lapangan

Masih pada hari yang sama Usman Muchlish, pembicara dari CIFOR mengajarkan peserta cara melakukan manajemen pengumpulan data kehati di lapangan. Setelah itu, dilanjut dengan sesi warung ke II masih bersama dengan Pak Usman. Kali ini peserta diminta untuk berdiskusi merumuskan pendapat melakukan manajemen pengumpulan data kehati. Tidak ketinggalan pula setelah itu Sabhrina Gita Aninta berbagi tentang mobilisasi data kehati untuk konservasi menggunakan Biodiverskripsi dan GBIF. Mendekati penghujung acara, kegiatan diisi dengan lokakarya oleh kedua narasumber terakhir yaitu Usman Muchlish dan Sabhrina Gita Aninta. Masing-masing dari mereka memberikan lokakarya tetang mengkoleksi data lapangan menggunakan ODK Collect dan KoBoToolBox, sementara Kak Sabhrina memberikan lokakarya seputar mengelola data kehati dan mempublikasikannya melalui pengenalan Darwin Core dan data paper.

Sabhrina Gita Aninta memperkenalkan peserta pada web portal hasil proyek Biodiverskripsi


Pada hari kedua, Teguh Triyono dari ZSL Indonesia membagikan pandangan terkait sains warga sebagai penyumbang data kehati raksasa. Setelah itu langsung dilakukan sesi warung dengan tema ini, membahas empat pertanyaan terkait sains warga, mulai dari seberapa paham peserta tentang sains warga sampai dengan bagaimana sains warga dapat berkontribusi dalam data kehati raksasa. Peserta memahami sains warga sebagai upaya spontan warga berkontribusi dalam pengumpulan data keanekaragaman hayati. Mengingat lembaga dan institusi pendidikan yang bekerja dalam bidang ini tidak memiliki sumber daya sebesar potensi keanekaragaman hayati Indonesia, kontribusi publik perlu dipertimbangkan. “Ketika orang yang mengumpulkan data menyukai datanya, bakal lebih cepat data terkumpul,” ujar Teguh.

Teguh Triyono memberikan pemaparan pandangan terkait sains warga sebagai penyumbang data kehati raksasa

Setelah sesi warung kedua usai, Safran Yusri dari Yayasan Terangi memberikan materi tentang bagaimana data kehati skala besar dapat digunakan untuk membantu pengambilan kebijakan. Safran yang ikut banyak bekerja dalam menyediakan insight tentang kondisi lingkungan Indonesia untuk pemerintah dari data keanekaragaman hayati menceritakan bagaimana komputasi awan dan pembelajaran mesin sangat membantu para ahli yang dikejar-kejar untuk memberikan informasi tentang kondisi lingkungan dalam waktu cepat dan akurasi tinggi. Untuk meningkatkan pemahaman peserta, Safran memberikan pelatihan langsung bagaimana melakukan prediksi distribusi spesies melalui Google Earth Engine. Masih belum cukup, Tambora pun masih memberikan pengenalan sekilas eksplorasi data menggunakan perangkat lunak R. Banyak peserta yang mengeluh pelatihan diadakan kurang lama, mereka menginginkan acara ini diadakan lebih dari dua hari.

Safran Yusri memandu peserta melakukan analisis data keanekaragaman hayati dari GBIF

Terakhir di penghujung acara, para peserta diperkenalkan pada web portal hasil proyek Biodiverskripsi. Peserta diminta untuk memberikan evaluasi portal dan kemudian secara langsung diberikan pengarahan bagaimana cara menggunakan portal tersebut. Web portal ini berada dalam status 50% yang memuat 5.000 perjumpaan spesies dengan segala manfaat yang dapat digunakan sebagaimana mestinya data kehati seharusnya digunakan.

Penasaran lebih jauh tentang data besar kehati? Ikuti terus kiprah Tambora Muda Indonesia via Twitter, Instagram, Facebook atau hubungi kami langsung di info@tamboramuda.org.



Read More

Friday, February 22, 2019

Survei Masyarakat untuk Mengetahui Ancaman dan Tren Populasi Satwa Langka





Melalui “Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007 - 2017” yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia memiliki tujuan untuk dapat menjaga populasi liar orangutan yang dapat bertahan di tahun 2017. Dalam mencapai target ini, di Kalimantan, manajemen konservasi orangutan memerlukan informasi terkait ancaman dan pembunuhan yang terjadi terhadap populasi orangutan sekaligus tren populasi yang ada. Untuk itu, di tahun 2008 dan 2009 dilakukan sebuah survei di 512 desa di Kalimantan yang dipimpin oleh The Nature Conservancy bersama 21 NGO lainnya untuk mengambil data mengenai perspektif warga sekitar terhadap tren populasi orangutan. Upaya ini merupakan bentuk kolaborasi di bawah Borneo Futures, sebuah inisiatif yang melibatkan peneliti dari Indonesia, Sabah, UK, dan Australia untuk manajemen konservasi yang ada di Borneo. Hasil penelitian ini telah dipublikasi oleh Abram dkk. di jurnal ilmiah Diversity and Distributions tahun 2015.

Sesuai dengan lokasi survei yang dilakukan, target spesies dari studi ini merupakan orangutan Kalimantan (Pongopygmaeus) yang terdiridari 3 subspesies yaitu, P. p. pygmaeus, P. p. wurmbi, dan P. p. morio. Ketiga subspesies ini tersebar di Kalimantan, di bagian Kalimantan Barat terdapat beberapa populasi P. p. pygmaeus, di Kalimantan Tengah ada subspesies P. p. wurmbi, dan di Kalimantan Timur ada populasi P. p. mario. Untuk mencakup semua range populasi orangutan di Kalimantan, survei dilakukan di 6 area yang berbeda yaitu, (1) di dalam dan sekitar Taman Nasional Batang Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum di Kalimantan Barat, (2) dataran rendah Kalimantan Barat yang ada di Cagar Alam Gunung Niut, (3) utara dari Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah, (4) di dalam dan timur-laut dari Taman Nasional Sebangau, (5) di perbatasan Kalimantan Barat dan Tengah yang mencakup Taman Nasional Bukit Baka dan Bukit Raya (habitat subspesies P. p. pygmaeus dan P. p. wurmbi) dan (6) di dalam dan sekitar Taman Nasional Kutai di Kalimantan Timur.





Data yang mereka ambil sebagai bentuk response variables adalah: frekuensi dari penampakan orangutan, konflik orangutan-manusia yang terjadi, pembunuhan orangutan yang terjadi, dan persepsi terhadap tren populasi orangutan di area tersebut. Semua data ini akan masuk ke proses mapping disertai dengan predictor variables berupa : data tutupan lahan, range habitat orangutan, topografi, iklim, infrastruktur, dan suku/agama masyarakat. Dari analisis yang dilakukan oleh Nicola K. Abram dan rekan penelitinya yang lain , ada beberapa kombinasi/pola dari ancaman dan trenpopulasi yang terjadi di Kalimantan. Di sekitar habitat P. p. pygmaeus di Taman Nasional Batang Kerihundan Taman Nasional Danau Sentarum (area 1), hasil analisis memperkirakan bahwa populasi orangutan akan stabil atau bahkan naik karena area hutan yang banyak dan penampakan orangutan yang tinggi. Hanya saja, area ini juga memiliki prediksi tingkat konflik dan pembunuhan orangutan yang tinggi karena budaya memakan daging orangutan sebagai makanan.

Area 4 dan 5 yang merupakan habitat bagi subspesies P. p. wurmbi dan P. p. pygmaeus di perbatasan Kalimantan Barat menunjukkan trenpopulasi orangutan yang cukup stabil atau sedikit menurun (di Taman Nasional Sebangau). Sebelumnya, Taman Nasional Sebangau menjadi rumah bagi 6700 individu orangutan. Hanya saja, ancaman dalam bentuk penebangan liar, kebakaran hutan, dan konversi hutan menjadi perkebunan masih sangat tinggi. Di area 4, prediksi tingkat pembunuhan orangutan menjadi sangat tinggi dengan penurunan populasi yang besar dalam 10 tahun kedepan. Ancaman yang serupa juga ada di area 5 dengan tingginya prediksi angka pembunuhan karena perburuan orangutan sebagai makanan.

Area 2 dan 3 menunjukkan prediksi terjadinya kepunahan lokal untuk populasi orangutan yang ada di area ini. Sebelumnya, dataran rendah Kalimantan Barat diketahui menunjang hidup populasi orangutan yang besar. Namun, konversi hutan menjadi perkebunan menurunkan angka populasi orangutan dan sekarang tidak banyak hutan yang tersisa di area ini. Bagian utara Taman Nasional Sebangau masih memiliki area hutan yang besar, tetapi orangutan jarang ditemukan karena perburuan liar. Kedua area ini menunjukkan prediksi tinggi terjadinya pembunuhan orangutan yang dilakukan oleh responden survei.

Di Kalimantan Timur (habitat P. p. morio), prediksi kepunahan lokal untuk populasi orangutan sangat tinggi di 10 tahun kedepan. Resiko konflik dan prediksi pembunuhan orangutan yang tinggi berkaitan erat dengan konversi hutan dan degradasi habitat yang terjadi di area ini.


Dari data ini, rekomendasi strategi konservasi yang dirancang untuk tiap area akan berbeda. Untuk area seperti di Kalimantan Timur, diperlukan upaya konservasi reaktif karena dugaan kepunahan, resiko konflik, dan perburuan liar yang tinggi. Upaya konservasi proaktif diperlukan untuk area yang memiliki tren populasi orangutan stabil dengan resiko konflik yang tinggi seperti di sekitar Taman Nasional Batang Kerihun dan Danau Sentarum. Area 1 menunjukkan area dengan resiko perburuan orangutan yang tinggi sebagai sumber makanan, di area tersebut diperlukan edukasi konservasi dan program outreach yang ditargetkan kemasyarakat dan patrol yang lebih ketat. Untuk area dengan resiko konflik yang tinggi karena crop-raiding, diperlukan strategi mitigasi konflik yang damai. Area dengan tingginya konversi hutan dan degradasi habitat memerlukan proteksi habitat, manajemen konservasi yang baik di dalam perkebunan, edukasi konservasi kemasyarakat dan perusahaan perkebunan terkait, dan patroli lebih baik di dalam taman nasional dan perkebunan.

Ternyata dengan mewawancarai masyarakat, peneliti bisa memperkirakan tren populasi dan ancaman bagi satwa yang terancam kepunahan. Untuk mengetahui metode dan hasil penelitian yang lebih rinci, teman-teman bisa membaca publikasi Abram dkk. di tautan di bawah ini. Kira-kira bisa tidak ya metode ini digunakan untuk memprediksi trenpopulasi dan ancaman bagi spesies langka lainnya?

Paper summary by : Athena Syarifa

Paper:

Abram, N. K., E. Meijaard, J. A. Wells, M. Ancrenaz, A.-S. Pellier, R. K. Runting, D. Gaveau, S. Wich, Nardiyono, A. Tjiu, A. Nurcahyo, and K. Mengersen. 2015. Mapping perceptions of species' threats and population trends to inform conservation efforts: the Bornean orangutan case study. Diversity and Distributions 21:487-499. https://doi.org/10.1111/ddi.12286


Ingin berkontribusi untuk meringkas artikel ilmiah? Silahkan menghubungi kami melalui surel tambora.muda@gmail.com dengan subjek Paper Summary











Read More

Baca Paper, Yuk!

Tim Edukasi Tambora punya program baru, loh! Seperti judul artikel ini, Baca Paper, Yuk! merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan minat kamu-kamu untuk membaca artikel ilmiah. Pasti sering 'kan denger ada paper baru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, misalnya revisi taksonomi orangutan sumatera atau penggunaan drone untuk penelitian, tapi males bacanya karena artikelnya bahasa Inggris?

Nah, oleh karena itu, tim kami setiap 1-2 bulan akan meringkas artikel ilmiah hitz yang terkait dengan konservasi biodiversitas (artikel baru atau lama yang masih hitz) ke dalam tulisan sepanjang maksimal 1000 kata dalam bahasa Indonesia. Karena tulisan tersebut berupa ringkasan, tentu saja tidak semua informasi tersaji di sana. Jadi, kalau kamu penasaran dengan detailnya, silakan kepo-in original paper-nya 😊

Semoga kita semua bisa makin kepo sama artikel ilmiah, yaa!



P.S: Kalau kamu berminat berkontribusi untuk meringkas artikel ilmiah, silakan menghubungi kami melalui surel tambora.muda@gmail.com dengan subjek Paper Summary.
Read More

Wednesday, January 30, 2019

Biodiverskripsi III : Data Keanekaragaman Hayati Indonesia dalam Genggaman Jari dan Cara Menggunakannya



“Duuh, aku kok susah ya nemu literatur buat yang ini…”- catatan hati pejuang skripsi

Saat ini kesulitan mengerjakan skripsi sudah bukan lagi menjadi hal yang jarang terjadi. Banyak mahasiswa/mahasiswi yang mengeluh melalui unggahan foto atau status di media sosial. Bahkan banyak akun-akun receh bertebaran ikut menyuarakan kegelisahan hati para mahasiswa. Mulai dari perkara sulitnya mencari inspirasi tema skripsi, menemui dosen untuk bimbingan, mencari literatur atau referensi hingga revisi yang tiada habis-habisnya.

Salah satu kesulitan yang dikeluhkan oleh mahasiswa jurusan biologi, kehutanan dan jurusan lainnya adalah mencari referensi tentang data keanekaragaman hayati. Sementara tema keanekaragaman hayati merupakan tema yang populer dan sering dipilih sebagai subjek skripsi. Selain karena substansinya yang penting, tema ini digemari karena cenderung menggunakan metode yang mudah dilaksanakan dan tidak memakan banyak biaya dibandingkan dengan tema lainnya.

Seringkali pihak jurusan mensyaratkan mahasiswanya untuk membuat sebuah penelitian skripsi yang berbeda dari penelitian sebelumnya. Bagi pejuang skripsi keanekaragaman hayati, menentukan judul skripsi yang berbeda itu susah-susah gampang. Pasalnya, bagaimana mereka tahu apakah judul skripsi ini sudah pernah diteliti atau belum jika semua referensi data sulit diperoleh? Apakah keanekaragaman hayati di daerah A sudah pernah diteliti? Bagaimana dengan daerah B? Apakah keduanya sudah didokumentasikan untuk semua taksa? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terkadang sulit dijawab oleh mereka. Karena data keanekaragaman hayati di Indonesia belum lengkap terhimpun.



Akan tetapi belum banyak pejuang skripsi yang mengetahui, bahwasannya ada sebuah situs web yang memuat seluruh data keanekaragaman hayati dunia. Situs web ini disebut dengan gbif.org, GBIF merupakan kepanjangan dari Global Biodiversity Information Facility yang bernaung di bawah lembaga internasional dengan nama GBIF. Lembaga ini yakin dengan memberikan akses terbuka untuk data keanekaragaman hayati akan meningkatkan banyak keuntungan ekonomi dan sosial, serta dapat berperan dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan dengan menyediakan bukti ilmiah. Dalam situs web GBIF tercantum data occurrence (perjumpaan) tiap individu spesies dari berbagai belahan bumi. Melalui situs ini, peneliti bisa dengan mudah mengakses serta menggunakan data yang tersedia untuk diolah kembali menjadi sebuah penelitian yang berbeda dari sebelumnya.

Kemudian muncul sebuah pertanyaan, apakah dengan menggunakan data tersebut penelitian dapat dipublikasikan? Jawabannya adalah bisa. Pihak GBIF sendiri memang membuka data tersebut agar dapat diakses dengan mudah. Data-data yang dibuka dipastikan valid dan kontak penyedia data selalu disediakan untuk korespondensi dan kolaborasi.

“Situs web gbif.org sungguh sebuah angin segar bagi para peneliti, pun begitu juga untuk mahasiswa pejuang skripsi”

GBIF adalah paket komplit untuk mahasiswa. Siapa pun bisa mencari informasi, mengunduh dan menggunakan data tersebut serta mempublikasikannya untuk penelitian lain dengan skala yang lebih besar. Itulah sedikit pemaparan mengenai GBIF, situs web data internasional. Lalu bagaimana dengan data keanekaragaman hayati Indonesia? Apakah data keanekaragaman hayati Indonesia pada GBIF lengkap? Sementara keberadaan data keanekaragaman hayati Indonesia sendiri belum terintegrasi. Tentu belum, GBIF hanya akan mempublikasikan data yang diperoleh dari institusi yang tercatat sebagai data publisher GBIF. Institusi tersebut ditunjuk sebagai perwakilan dari setiap negara dan Indonesia kini memiliki tiga data publisher dalam GBIF.

Sejak tahun 2004 hingga 2017, Indonesia hanya memiliki satu data publisher. Akan tetapi, kini Indonesia semangat mengumpulkan data keanekaragaman hayati bersama data publisher baru, salah satunya Tambora Muda Indonesia”

Tambora Muda Indonesia kini sedang menggarap sebuah proyek pendataan keanekaragaman hayati yang diekstrak dari data skripsi, tesis dan disertasi mahasiswa Indonesia yaitu Biodiverskripsi. Keluaran dari proyek ini akan menghasilkan sebuah portal data keanekaragaman hayati yang mudah diakses oleh siapa pun. Portal web ini akan difungsikan serupa dengan situs web GBIF. Sehingga para mahasiswa dapat mencari referensi data keanekargaman hayati Indonesia dengan sangat mudah. Proyek ini juga digadang untuk menggenapi jurang informasi mengenai keanekaragaman hayati di Indonesia.


Untuk memudahkan mahasiswa menggunakan portal web yang akan dibuat, Tambora selaku penerima dana hibah dari BIFA dan sebagai data publisher dari Indonesia dalam GBIF, mengadakan lokakarya penggunaan data besar untuk keanekaragaman hayati sebagaimana implementasi dari proyek Biodiverskripsi yang sedang dikerjakan Tambora Muda Indonesia. Lokakarya ini merupakan rangkaian lokakarya Biodiverskripsi yang ketiga setelah sebelumnya Tambora mengadakan Lokakarya Teknis Implementasi Biodiverskripsi dan Workshop Bimbingan Teknis Transkripsi Data Biodiverskripsi . Keduanya telah sukses diadakan pada tanggal 2 Juli 2018 dan 15-18 Agustus 2018 yang bertempat di RCCC UI, Depok dan CICO Resort, Bogor.



Melalui workshop ketiga ini, Tambora Muda membagikan ilmu tentang seluk beluk data besar dalam GBIF dan aplikasinya untuk penelitian keanekaragaman hayati pada mahasiswa dan mahasiswi di IPB. Bekerja sama dengan komunitas OWA IPB, workshop ini diadakan pada tanggal 15 Desember 2018 dengan menghadirkan sejumlah materi dan pelatihan serta diskusi bagaimana cara membuat sebuah penelitian dengan menggunakan data besar dari GBIF. Sementara itu, pemateri berasal dari anggota Tambora sendiri yang telah mendapatkan pelatihan dari GBIF.



Meskipun hanya diadakan dalam satu hari, kegiatan workshop ini memuat acara yang cukup padat. Kegiatan dimulai dengan memperkenalkan TamboraMuda Indonesia kepada para partisipan yang dibawakan oleh humas Tambora Muda yaitu Pramita Indrarini. Selanjutnya, penyampaian materi pertama diberikan oleh Primadieta berupa materi inisiasi mobilisasi data keanekaragaman hayati oleh Biodiverskripsi dan GBIF. Pengenalan berbagai penelitian kehati dengan data besar disampaikan oleh Rahmia Nugraha. Sementara itu, Dina Setyaningrum berbagi tentang Darwin Core dan penjelasan lima set data Biodiverskripsi.


Selain itu, dilakukan juga demo pengoperasian sistem portal GBIF. Dalam kegiatan tersebut, peserta diberikan penjelasan bagaimana mengunduh, menyortir, dan membersihkan data dari GBIF. Tidak hanya itu, dalam kegiatan ini dilakukan sesi praktik perencanaan penelitian dari data GBIF meliputi pembuatan pertanyaan dan hipotesis, mengunduh, membersihkan data dan menyortir, serta rencana analisis data. Selain itu juga dilakukan sesi praktik dalam analisis data dan penarikan kesimpulan meliputi pemetaan data dan pivot table, statistik dan interpretasi, serta penulisan hasil. Dalam kedua sesi praktik ini peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk merencanakan penelitian apa yang akan dibuat kemudian mempresentasikannya kepada partisipan lain. Semoga dengan diadakannya workshop ini dapat membuka wawasan dan membantu para mahasiswa untuk mengaplikasikan data besar dalam penelitian keanekaragaman hayati, khususnya melalui situs web GBIF dan menambah khasanah penelitian keanekaragaman hayati di Indonesia.

Penasaran lebih jauh tentang penggunaan data besar kehati? Ikuti terus kiprah Tambora Muda Indonesia via Twitter, Instagram, Facebook atau hubungi kami langsung di info@tamboramuda.org.
Read More

Thursday, December 13, 2018

MEET THE NEW FACE IN THE GANG!



KSP Macaca UNJ Present  ▶ SEKONS 2018 ◀
[Seminar Ekologi dan Konservasi 2018]
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Dengan mengusung tema
"New Face In The Gang : Pongo Of Tapanuli"
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
.
🎙Dengan pembicara-pembicara yang kece:
1. Dr. Barita O. Manullang
2. Tri Wahyu Susanto, M.Si
3. Fitty Machmudah, S.Hut
📌SEKONS 2018 ini akan dilaksanakan pada:
🗓 Sabtu 15 Desember 2018
⏰ 08.00 - 13.00
🏫 Aula Maftuchah Yusuf, Gd. Dewi Sartika. Kampus A UNJ .
💰Biaya Registrasi💰
🔅Rp. 30.000, Umum
🔅Rp. 35.000, OTS 📌Kalian akan mendapatkan:
💡Ilmu
📜Sertifikat
🥪Snack
🛍Seminar KIT
🎉Doorprize

Jadi, mau tunggu apalagi??
Yuk daftarkan dirimu di👇🏻
▶ Open link
https://bit.ly/Sekons2018
.
▶ Transfer via rek
💳 bri. 0139-01-082466-50-6 a/n Juliana ✨nb:
Jika telah melakukan pembayaran melalui transfer rekening, diharap menghubungi ke⤵
📞08816886158 (sekons 2018)
Dengan format:
Nama Lengkap_ Instansi_tanggal transfer_No.hp dan sertakan foto bukti transfer 📱Contact person :
Sekons 2018 (08816886158) ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
👤 KSP Macaca UNJ
🐤 @KSP_Macaca
📷 @kspmacacaunj
🌐  http://kspmacaca-unj.blogspot.co.id/
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
.
#KSPMacacaUNJ
#SEKONS2018
#InisiatifKreatifkontributif
#NewFaceInTheGang
#PongoOfTapanuli
Read More

Monday, November 19, 2018

Lowongan Kerja Dokter Hewan di YBOS


Read More

Wednesday, October 10, 2018

BOS-RHO: Field Post Release Monitoring Staff



BOS-RHO (Borneo Orangutan Survival Foundation-Restorasi Habitat Orangutan Program) adalah yayasan konservasi nirlaba yang bergerak di bidang penyelamatan orangutan. Saat ini BOS-RHO membuka lowongan untuk menjadi Field Post Release Monitoring Staff yang akan bekerja di Hutan Kehje Sewen, Muara Wahau, Kalimantan Timur. Secara umum, staff PRM lapangan akan membawahi teknisi yang berada di camp dan menjalankan aktivitas monitoring pasca pelepasliaran, termasuk manajemen kegiatan harian camp dan SDM teknisi.

Kualifikasi
Minimal Diploma dengan jurusan Kehutanan, Biologi, Konservasi, atau jurusan relevan lain.

Kemampuan

  • Mampu berkomunikasi (lisan dan tulisan) dalam bahasa inggris
  • Memiliki kemampuan lapangan yang baik (navigasi dan kemampuan fisik)
  • Kompeten dalam menggunakan Ms Office yaitu Ms Word, Ms Excel. Bisa mengoperasikan Ms Access merupakan nilai lebih.
  • Mampu memimpin dan mengambil keputusan dengan luwes
  • Mampu bekerja sama dengan pihak-pihak dari berbagai latar belakang
  • Memiliki kemampuan pemetaan dasar
  • Memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi (tahan tinggal di daerah terpencil/hutan dalam kurun waktu lebih dari 1 bulan).


Masa kontrak
Lokasi: Muara Wahau, Kalimantan Timur
Rentang waktu: 1 (satu) tahun

Cara mendaftar
Kirim email berisi data diri (CV, cover letter, ijazah, dan foto terbaru) ke ariyo@orangutan.or.id maks 29 Oktober 2018.

Info lebih lanjut silakan hubungi intan@orangutan.or.id atau melalui http://theforestforever.com/.
Read More