Friday, February 22, 2019

Survei Masyarakat untuk Mengetahui Ancaman dan Tren Populasi Satwa Langka





Melalui “Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007 - 2017” yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia memiliki tujuan untuk dapat menjaga populasi liar orangutan yang dapat bertahan di tahun 2017. Dalam mencapai target ini, di Kalimantan, manajemen konservasi orangutan memerlukan informasi terkait ancaman dan pembunuhan yang terjadi terhadap populasi orangutan sekaligus tren populasi yang ada. Untuk itu, di tahun 2008 dan 2009 dilakukan sebuah survei di 512 desa di Kalimantan yang dipimpin oleh The Nature Conservancy bersama 21 NGO lainnya untuk mengambil data mengenai perspektif warga sekitar terhadap tren populasi orangutan. Upaya ini merupakan bentuk kolaborasi di bawah Borneo Futures, sebuah inisiatif yang melibatkan peneliti dari Indonesia, Sabah, UK, dan Australia untuk manajemen konservasi yang ada di Borneo. Hasil penelitian ini telah dipublikasi oleh Abram dkk. di jurnal ilmiah Diversity and Distributions tahun 2015.

Sesuai dengan lokasi survei yang dilakukan, target spesies dari studi ini merupakan orangutan Kalimantan (Pongopygmaeus) yang terdiridari 3 subspesies yaitu, P. p. pygmaeus, P. p. wurmbi, dan P. p. morio. Ketiga subspesies ini tersebar di Kalimantan, di bagian Kalimantan Barat terdapat beberapa populasi P. p. pygmaeus, di Kalimantan Tengah ada subspesies P. p. wurmbi, dan di Kalimantan Timur ada populasi P. p. mario. Untuk mencakup semua range populasi orangutan di Kalimantan, survei dilakukan di 6 area yang berbeda yaitu, (1) di dalam dan sekitar Taman Nasional Batang Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum di Kalimantan Barat, (2) dataran rendah Kalimantan Barat yang ada di Cagar Alam Gunung Niut, (3) utara dari Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah, (4) di dalam dan timur-laut dari Taman Nasional Sebangau, (5) di perbatasan Kalimantan Barat dan Tengah yang mencakup Taman Nasional Bukit Baka dan Bukit Raya (habitat subspesies P. p. pygmaeus dan P. p. wurmbi) dan (6) di dalam dan sekitar Taman Nasional Kutai di Kalimantan Timur.





Data yang mereka ambil sebagai bentuk response variables adalah: frekuensi dari penampakan orangutan, konflik orangutan-manusia yang terjadi, pembunuhan orangutan yang terjadi, dan persepsi terhadap tren populasi orangutan di area tersebut. Semua data ini akan masuk ke proses mapping disertai dengan predictor variables berupa : data tutupan lahan, range habitat orangutan, topografi, iklim, infrastruktur, dan suku/agama masyarakat. Dari analisis yang dilakukan oleh Nicola K. Abram dan rekan penelitinya yang lain , ada beberapa kombinasi/pola dari ancaman dan trenpopulasi yang terjadi di Kalimantan. Di sekitar habitat P. p. pygmaeus di Taman Nasional Batang Kerihundan Taman Nasional Danau Sentarum (area 1), hasil analisis memperkirakan bahwa populasi orangutan akan stabil atau bahkan naik karena area hutan yang banyak dan penampakan orangutan yang tinggi. Hanya saja, area ini juga memiliki prediksi tingkat konflik dan pembunuhan orangutan yang tinggi karena budaya memakan daging orangutan sebagai makanan.

Area 4 dan 5 yang merupakan habitat bagi subspesies P. p. wurmbi dan P. p. pygmaeus di perbatasan Kalimantan Barat menunjukkan trenpopulasi orangutan yang cukup stabil atau sedikit menurun (di Taman Nasional Sebangau). Sebelumnya, Taman Nasional Sebangau menjadi rumah bagi 6700 individu orangutan. Hanya saja, ancaman dalam bentuk penebangan liar, kebakaran hutan, dan konversi hutan menjadi perkebunan masih sangat tinggi. Di area 4, prediksi tingkat pembunuhan orangutan menjadi sangat tinggi dengan penurunan populasi yang besar dalam 10 tahun kedepan. Ancaman yang serupa juga ada di area 5 dengan tingginya prediksi angka pembunuhan karena perburuan orangutan sebagai makanan.

Area 2 dan 3 menunjukkan prediksi terjadinya kepunahan lokal untuk populasi orangutan yang ada di area ini. Sebelumnya, dataran rendah Kalimantan Barat diketahui menunjang hidup populasi orangutan yang besar. Namun, konversi hutan menjadi perkebunan menurunkan angka populasi orangutan dan sekarang tidak banyak hutan yang tersisa di area ini. Bagian utara Taman Nasional Sebangau masih memiliki area hutan yang besar, tetapi orangutan jarang ditemukan karena perburuan liar. Kedua area ini menunjukkan prediksi tinggi terjadinya pembunuhan orangutan yang dilakukan oleh responden survei.

Di Kalimantan Timur (habitat P. p. morio), prediksi kepunahan lokal untuk populasi orangutan sangat tinggi di 10 tahun kedepan. Resiko konflik dan prediksi pembunuhan orangutan yang tinggi berkaitan erat dengan konversi hutan dan degradasi habitat yang terjadi di area ini.


Dari data ini, rekomendasi strategi konservasi yang dirancang untuk tiap area akan berbeda. Untuk area seperti di Kalimantan Timur, diperlukan upaya konservasi reaktif karena dugaan kepunahan, resiko konflik, dan perburuan liar yang tinggi. Upaya konservasi proaktif diperlukan untuk area yang memiliki tren populasi orangutan stabil dengan resiko konflik yang tinggi seperti di sekitar Taman Nasional Batang Kerihun dan Danau Sentarum. Area 1 menunjukkan area dengan resiko perburuan orangutan yang tinggi sebagai sumber makanan, di area tersebut diperlukan edukasi konservasi dan program outreach yang ditargetkan kemasyarakat dan patrol yang lebih ketat. Untuk area dengan resiko konflik yang tinggi karena crop-raiding, diperlukan strategi mitigasi konflik yang damai. Area dengan tingginya konversi hutan dan degradasi habitat memerlukan proteksi habitat, manajemen konservasi yang baik di dalam perkebunan, edukasi konservasi kemasyarakat dan perusahaan perkebunan terkait, dan patroli lebih baik di dalam taman nasional dan perkebunan.

Ternyata dengan mewawancarai masyarakat, peneliti bisa memperkirakan tren populasi dan ancaman bagi satwa yang terancam kepunahan. Untuk mengetahui metode dan hasil penelitian yang lebih rinci, teman-teman bisa membaca publikasi Abram dkk. di tautan di bawah ini. Kira-kira bisa tidak ya metode ini digunakan untuk memprediksi trenpopulasi dan ancaman bagi spesies langka lainnya?

Paper summary by : Athena Syarifa

Paper:

Abram, N. K., E. Meijaard, J. A. Wells, M. Ancrenaz, A.-S. Pellier, R. K. Runting, D. Gaveau, S. Wich, Nardiyono, A. Tjiu, A. Nurcahyo, and K. Mengersen. 2015. Mapping perceptions of species' threats and population trends to inform conservation efforts: the Bornean orangutan case study. Diversity and Distributions 21:487-499. https://doi.org/10.1111/ddi.12286


Ingin berkontribusi untuk meringkas artikel ilmiah? Silahkan menghubungi kami melalui surel tambora.muda@gmail.com dengan subjek Paper Summary











Read More

Baca Paper, Yuk!

Tim Edukasi Tambora punya program baru, loh! Seperti judul artikel ini, Baca Paper, Yuk! merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan minat kamu-kamu untuk membaca artikel ilmiah. Pasti sering 'kan denger ada paper baru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, misalnya revisi taksonomi orangutan sumatera atau penggunaan drone untuk penelitian, tapi males bacanya karena artikelnya bahasa Inggris?

Nah, oleh karena itu, tim kami setiap 1-2 bulan akan meringkas artikel ilmiah hitz yang terkait dengan konservasi biodiversitas (artikel baru atau lama yang masih hitz) ke dalam tulisan sepanjang maksimal 1000 kata dalam bahasa Indonesia. Karena tulisan tersebut berupa ringkasan, tentu saja tidak semua informasi tersaji di sana. Jadi, kalau kamu penasaran dengan detailnya, silakan kepo-in original paper-nya 😊

Semoga kita semua bisa makin kepo sama artikel ilmiah, yaa!



P.S: Kalau kamu berminat berkontribusi untuk meringkas artikel ilmiah, silakan menghubungi kami melalui surel tambora.muda@gmail.com dengan subjek Paper Summary.
Read More

Wednesday, January 30, 2019

Biodiverskripsi III : Data Keanekaragaman Hayati Indonesia dalam Genggaman Jari dan Cara Menggunakannya



“Duuh, aku kok susah ya nemu literatur buat yang ini…”- catatan hati pejuang skripsi

Saat ini kesulitan mengerjakan skripsi sudah bukan lagi menjadi hal yang jarang terjadi. Banyak mahasiswa/mahasiswi yang mengeluh melalui unggahan foto atau status di media sosial. Bahkan banyak akun-akun receh bertebaran ikut menyuarakan kegelisahan hati para mahasiswa. Mulai dari perkara sulitnya mencari inspirasi tema skripsi, menemui dosen untuk bimbingan, mencari literatur atau referensi hingga revisi yang tiada habis-habisnya.

Salah satu kesulitan yang dikeluhkan oleh mahasiswa jurusan biologi, kehutanan dan jurusan lainnya adalah mencari referensi tentang data keanekaragaman hayati. Sementara tema keanekaragaman hayati merupakan tema yang populer dan sering dipilih sebagai subjek skripsi. Selain karena substansinya yang penting, tema ini digemari karena cenderung menggunakan metode yang mudah dilaksanakan dan tidak memakan banyak biaya dibandingkan dengan tema lainnya.

Seringkali pihak jurusan mensyaratkan mahasiswanya untuk membuat sebuah penelitian skripsi yang berbeda dari penelitian sebelumnya. Bagi pejuang skripsi keanekaragaman hayati, menentukan judul skripsi yang berbeda itu susah-susah gampang. Pasalnya, bagaimana mereka tahu apakah judul skripsi ini sudah pernah diteliti atau belum jika semua referensi data sulit diperoleh? Apakah keanekaragaman hayati di daerah A sudah pernah diteliti? Bagaimana dengan daerah B? Apakah keduanya sudah didokumentasikan untuk semua taksa? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terkadang sulit dijawab oleh mereka. Karena data keanekaragaman hayati di Indonesia belum lengkap terhimpun.



Akan tetapi belum banyak pejuang skripsi yang mengetahui, bahwasannya ada sebuah situs web yang memuat seluruh data keanekaragaman hayati dunia. Situs web ini disebut dengan gbif.org, GBIF merupakan kepanjangan dari Global Biodiversity Information Facility yang bernaung di bawah lembaga internasional dengan nama GBIF. Lembaga ini yakin dengan memberikan akses terbuka untuk data keanekaragaman hayati akan meningkatkan banyak keuntungan ekonomi dan sosial, serta dapat berperan dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan dengan menyediakan bukti ilmiah. Dalam situs web GBIF tercantum data occurrence (perjumpaan) tiap individu spesies dari berbagai belahan bumi. Melalui situs ini, peneliti bisa dengan mudah mengakses serta menggunakan data yang tersedia untuk diolah kembali menjadi sebuah penelitian yang berbeda dari sebelumnya.

Kemudian muncul sebuah pertanyaan, apakah dengan menggunakan data tersebut penelitian dapat dipublikasikan? Jawabannya adalah bisa. Pihak GBIF sendiri memang membuka data tersebut agar dapat diakses dengan mudah. Data-data yang dibuka dipastikan valid dan kontak penyedia data selalu disediakan untuk korespondensi dan kolaborasi.

“Situs web gbif.org sungguh sebuah angin segar bagi para peneliti, pun begitu juga untuk mahasiswa pejuang skripsi”

GBIF adalah paket komplit untuk mahasiswa. Siapa pun bisa mencari informasi, mengunduh dan menggunakan data tersebut serta mempublikasikannya untuk penelitian lain dengan skala yang lebih besar. Itulah sedikit pemaparan mengenai GBIF, situs web data internasional. Lalu bagaimana dengan data keanekaragaman hayati Indonesia? Apakah data keanekaragaman hayati Indonesia pada GBIF lengkap? Sementara keberadaan data keanekaragaman hayati Indonesia sendiri belum terintegrasi. Tentu belum, GBIF hanya akan mempublikasikan data yang diperoleh dari institusi yang tercatat sebagai data publisher GBIF. Institusi tersebut ditunjuk sebagai perwakilan dari setiap negara dan Indonesia kini memiliki tiga data publisher dalam GBIF.

Sejak tahun 2004 hingga 2017, Indonesia hanya memiliki satu data publisher. Akan tetapi, kini Indonesia semangat mengumpulkan data keanekaragaman hayati bersama data publisher baru, salah satunya Tambora Muda Indonesia”

Tambora Muda Indonesia kini sedang menggarap sebuah proyek pendataan keanekaragaman hayati yang diekstrak dari data skripsi, tesis dan disertasi mahasiswa Indonesia yaitu Biodiverskripsi. Keluaran dari proyek ini akan menghasilkan sebuah portal data keanekaragaman hayati yang mudah diakses oleh siapa pun. Portal web ini akan difungsikan serupa dengan situs web GBIF. Sehingga para mahasiswa dapat mencari referensi data keanekargaman hayati Indonesia dengan sangat mudah. Proyek ini juga digadang untuk menggenapi jurang informasi mengenai keanekaragaman hayati di Indonesia.


Untuk memudahkan mahasiswa menggunakan portal web yang akan dibuat, Tambora selaku penerima dana hibah dari BIFA dan sebagai data publisher dari Indonesia dalam GBIF, mengadakan lokakarya penggunaan data besar untuk keanekaragaman hayati sebagaimana implementasi dari proyek Biodiverskripsi yang sedang dikerjakan Tambora Muda Indonesia. Lokakarya ini merupakan rangkaian lokakarya Biodiverskripsi yang ketiga setelah sebelumnya Tambora mengadakan Lokakarya Teknis Implementasi Biodiverskripsi dan Workshop Bimbingan Teknis Transkripsi Data Biodiverskripsi . Keduanya telah sukses diadakan pada tanggal 2 Juli 2018 dan 15-18 Agustus 2018 yang bertempat di RCCC UI, Depok dan CICO Resort, Bogor.



Melalui workshop ketiga ini, Tambora Muda membagikan ilmu tentang seluk beluk data besar dalam GBIF dan aplikasinya untuk penelitian keanekaragaman hayati pada mahasiswa dan mahasiswi di IPB. Bekerja sama dengan komunitas OWA IPB, workshop ini diadakan pada tanggal 15 Desember 2018 dengan menghadirkan sejumlah materi dan pelatihan serta diskusi bagaimana cara membuat sebuah penelitian dengan menggunakan data besar dari GBIF. Sementara itu, pemateri berasal dari anggota Tambora sendiri yang telah mendapatkan pelatihan dari GBIF.



Meskipun hanya diadakan dalam satu hari, kegiatan workshop ini memuat acara yang cukup padat. Kegiatan dimulai dengan memperkenalkan TamboraMuda Indonesia kepada para partisipan yang dibawakan oleh humas Tambora Muda yaitu Pramita Indrarini. Selanjutnya, penyampaian materi pertama diberikan oleh Primadieta berupa materi inisiasi mobilisasi data keanekaragaman hayati oleh Biodiverskripsi dan GBIF. Pengenalan berbagai penelitian kehati dengan data besar disampaikan oleh Rahmia Nugraha. Sementara itu, Dina Setyaningrum berbagi tentang Darwin Core dan penjelasan lima set data Biodiverskripsi.


Selain itu, dilakukan juga demo pengoperasian sistem portal GBIF. Dalam kegiatan tersebut, peserta diberikan penjelasan bagaimana mengunduh, menyortir, dan membersihkan data dari GBIF. Tidak hanya itu, dalam kegiatan ini dilakukan sesi praktik perencanaan penelitian dari data GBIF meliputi pembuatan pertanyaan dan hipotesis, mengunduh, membersihkan data dan menyortir, serta rencana analisis data. Selain itu juga dilakukan sesi praktik dalam analisis data dan penarikan kesimpulan meliputi pemetaan data dan pivot table, statistik dan interpretasi, serta penulisan hasil. Dalam kedua sesi praktik ini peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk merencanakan penelitian apa yang akan dibuat kemudian mempresentasikannya kepada partisipan lain. Semoga dengan diadakannya workshop ini dapat membuka wawasan dan membantu para mahasiswa untuk mengaplikasikan data besar dalam penelitian keanekaragaman hayati, khususnya melalui situs web GBIF dan menambah khasanah penelitian keanekaragaman hayati di Indonesia.

Penasaran lebih jauh tentang penggunaan data besar kehati? Ikuti terus kiprah Tambora Muda Indonesia via Twitter, Instagram, Facebook atau hubungi kami langsung di info@tamboramuda.org.
Read More

Thursday, December 13, 2018

MEET THE NEW FACE IN THE GANG!



KSP Macaca UNJ Present  ▶ SEKONS 2018 ◀
[Seminar Ekologi dan Konservasi 2018]
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Dengan mengusung tema
"New Face In The Gang : Pongo Of Tapanuli"
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
.
🎙Dengan pembicara-pembicara yang kece:
1. Dr. Barita O. Manullang
2. Tri Wahyu Susanto, M.Si
3. Fitty Machmudah, S.Hut
📌SEKONS 2018 ini akan dilaksanakan pada:
🗓 Sabtu 15 Desember 2018
⏰ 08.00 - 13.00
🏫 Aula Maftuchah Yusuf, Gd. Dewi Sartika. Kampus A UNJ .
💰Biaya Registrasi💰
🔅Rp. 30.000, Umum
🔅Rp. 35.000, OTS 📌Kalian akan mendapatkan:
💡Ilmu
📜Sertifikat
🥪Snack
🛍Seminar KIT
🎉Doorprize

Jadi, mau tunggu apalagi??
Yuk daftarkan dirimu di👇🏻
▶ Open link
https://bit.ly/Sekons2018
.
▶ Transfer via rek
💳 bri. 0139-01-082466-50-6 a/n Juliana ✨nb:
Jika telah melakukan pembayaran melalui transfer rekening, diharap menghubungi ke⤵
📞08816886158 (sekons 2018)
Dengan format:
Nama Lengkap_ Instansi_tanggal transfer_No.hp dan sertakan foto bukti transfer 📱Contact person :
Sekons 2018 (08816886158) ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
👤 KSP Macaca UNJ
🐤 @KSP_Macaca
📷 @kspmacacaunj
🌐  http://kspmacaca-unj.blogspot.co.id/
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
.
#KSPMacacaUNJ
#SEKONS2018
#InisiatifKreatifkontributif
#NewFaceInTheGang
#PongoOfTapanuli
Read More

Monday, November 19, 2018

Lowongan Kerja Dokter Hewan di YBOS


Read More

Wednesday, October 10, 2018

BOS-RHO: Field Post Release Monitoring Staff



BOS-RHO (Borneo Orangutan Survival Foundation-Restorasi Habitat Orangutan Program) adalah yayasan konservasi nirlaba yang bergerak di bidang penyelamatan orangutan. Saat ini BOS-RHO membuka lowongan untuk menjadi Field Post Release Monitoring Staff yang akan bekerja di Hutan Kehje Sewen, Muara Wahau, Kalimantan Timur. Secara umum, staff PRM lapangan akan membawahi teknisi yang berada di camp dan menjalankan aktivitas monitoring pasca pelepasliaran, termasuk manajemen kegiatan harian camp dan SDM teknisi.

Kualifikasi
Minimal Diploma dengan jurusan Kehutanan, Biologi, Konservasi, atau jurusan relevan lain.

Kemampuan

  • Mampu berkomunikasi (lisan dan tulisan) dalam bahasa inggris
  • Memiliki kemampuan lapangan yang baik (navigasi dan kemampuan fisik)
  • Kompeten dalam menggunakan Ms Office yaitu Ms Word, Ms Excel. Bisa mengoperasikan Ms Access merupakan nilai lebih.
  • Mampu memimpin dan mengambil keputusan dengan luwes
  • Mampu bekerja sama dengan pihak-pihak dari berbagai latar belakang
  • Memiliki kemampuan pemetaan dasar
  • Memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi (tahan tinggal di daerah terpencil/hutan dalam kurun waktu lebih dari 1 bulan).


Masa kontrak
Lokasi: Muara Wahau, Kalimantan Timur
Rentang waktu: 1 (satu) tahun

Cara mendaftar
Kirim email berisi data diri (CV, cover letter, ijazah, dan foto terbaru) ke ariyo@orangutan.or.id maks 29 Oktober 2018.

Info lebih lanjut silakan hubungi intan@orangutan.or.id atau melalui http://theforestforever.com/.
Read More

Sunday, September 16, 2018

Memperingati Kemerdekaan Indonesia dengan Menyadari Pentingnya Berbagi Data Keanekaragaman Hayati


Bogor, 15 Agustus 2018, sebagai bagian dari implementasi Biodiverskripsi, Tambora Muda Indonesia mengadakan Bimbingan Teknis Transkripsi Data Biodiverskripsi. Bimbingan Teknis ini merupakan lokakarya kedua dari rangkaian lokakarya Biodiverskripsi. Lokakarya pertama, Lokakarya Teknis Implementasi Biodiverskripsi telah dilaksanakan 2 Juli 2018 lalu bersama perwakilan universitas calon mitra, tepatnya dilaksanakan di RCCC UI, Gedung Rektorat UI lantai 8,5, Depok. 

Diselenggarakan dari 15-18 Agustus 2018 di CICO Resort, Bogor, Bimbingan Teknis ini dihadiri oleh 13 Relawan Biodiverskripsi yang direkrut Tambora Muda Indonesia pada Juli 2018 lalu, seorang pustakawan universitas dari UNIPA, dan empat anggota Tambora selaku panitia. Afiliasi peserta pelatihan dikelompokkan berdasarkan lima universitas calon mitra yang menjawab undangan Tambora untuk bergabung dalam Biodiverskripsi awal Juli lalu yaitu UGM, UNIPA, UI, IPB, dan USU. Selama empat hari, peserta Bimbingan Teknis diajarkan untuk memahami tentang Darwin Core Archive, yang merupakan standar publikasi data keanekaragaman hayati secara internasional. Nantinya format ini akan digunakan dalam proses transkripsi data skripsi sehingga dapat diunggah dalam pangkalan data GBIF. Selain itu, peserta juga dilatih untuk melakukan transkripsi data dari skripsi yang telah berhasil dikumpulkan.


Selain diskusi protokol transkripsi yang dimoderasi oleh Tambora, beberapa narasumber diundang di hari yang berbeda untuk memberikan wawasan seputar hal-hal penting yang perlu diperhatikan ketika transkripsi data dari sebuah naskah laporan ke dalam pangkalan data, mulai dari akurasi data hingga penggunaan data dalam penelitian ilmiah. Melalui Bimbingan Teknis ini, Tambora menunjukkan betapa pentingnya bagi sebuah bangsa untuk mengelola data keanekaragaman hayatinya dan mempublikasikannya ke komunitas global. Pembicara yang hadir antara lain adalah Prof. Ibnu Maryanto dan Dr. Anang Setiawan Achmadi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Prof. Gadis Sri Haryani dari Pusat Penelitian Limnologi LIPI, dan Dr. Mirza Kusrini dari Fakultas Kehutanan IPB.

Prof. Ibnu hadir di Hari Kedua membagikan sebaran dan pola distribusi mammalia di indonesia. Dari materi yang beliau sampaikan, para transkriptor data akan bisa menilai mana skripsi yang valid alias (tidak ngawur) atas pendokumentasian mammal di suatu tempat. Prof Gadis Haryani, ahli limnologi LIPI juga datang memberikan wawasan mengenai data keanekaragaman hayati invertebrate air tawar untuk penelitian skala besar, sehingga diharapkanpeserta dapat membuat penelitian yang bisa dikerjakan ketika kita sudah memiliki data seperti biodiverskripsi.


Dalam hari ketiga Bimbingan Teknis ini yang bertepatan dengan ulang tahun Republik Indonesia yang ke-73, peserta dibekali informasi tentang kondisi pangkalan data keanekaragaman hayati Indonesia. Meskipun Indonesia telah bergabung dengan GBIF semenjak 2004, hanya satu set data yang dikontribusikan Indonesia ke komunitas global selama ini. Dr. Anang Setiawan Achmadi, Manajer Nodus InaBIFpada kesempatan ini menyadarkan bahwa data keanekaragaman hayati Indonesia masih tersebar dan tidak jelas sampai mana data telah terhimpun. Ironis bahwa kita selalu mengklaim negara kita adalah kaya biodiversitas tetapi kita tidak mampu membuktikannya dengan akurat karena kita tidak memiliki data yang terintegrasi. Hal ini dikawatirkan akan membuat celah kerugian bagi Indonesia dan dunia internasional.

Pada hari terakhir Bimbingan Teknis, Dr. Mirza Kusrini berbagi tentang cara melaporkan hasil bedah skripsi. Dr. Mirza Kusrini yang akrab disapa Bu Miki menambahkan bahwa, melalui hasil transkripsi yang dilakukan, dapat diketahui tren penelitian yang dilakukan suatu universitas. Proyek biodiverskripsi ini mendapatkan respon positif dari para pembicara. Sementara itu, bagi para relawan transkripsi, kegiatan ini banyak memberikan manfaat dan meninggalkan kesan yang berarti.


”Awalnya sih aku iseng aja ikut Biodiverskripsi ini, ternyata banyak banget yang didapet nih dari acara ini. Yang pertama aku jadi tahu gimana sih standar skripsi yang bagus atau skripsi yang bisa digunakan untuk referensi atau yang bisa digunakan untuk penelitian lain tuh seperti apa. Kemudian aku jadi tahu nih ternyata data biodiversitas secara global itu sangat penting sekali, jadi sangat ngebantu buat peneliti lain, itu sih” tutur Amelia Nugrahaningrum, seorang relawan dari Universitas Gadjah Mada. Semoga setelah dilakukan kegiatan Bimbingan Teknis ini, para relawan dapat dengan mudah mengerjakan proses transkripsi data dan menghasilkan data yang akurat, valid serta mudah diakses. 

Read More